Kementerian ESDM Ungkap 2 Tantangan Besar Wujudkan Net Zero Emission 2060
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi menyebutkan, ada dua tantangan besar menuju net zero emission (NZE) 2060.
Disampaikan oleh Eniya, tantangan pertama adalah bagaimana mengurangi emisi dari pembangkit listrik yang ada, baik melalui pengurangan maupun penghentian secara bertahap PLTU.
"Tantangan kedua adalah bagaimana menghadirkan lebih banyak EBT (energi baru terbarukan) untuk menggantikan bahan bakar fosil dan untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan yang diperkirakan sekitar 4% per tahun," kata Eniya dalam acara Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2024 di Jakarta, Jumat (6/9/2024).
Baca Juga
Percepat Net Zero Emission, Menko Airlangga Usul Tiga Hal Ini
Untuk mengatasi tantangan-tantangan itu, Eniya menyebut pemerintah telah menetapkan rencana untuk pengembangan 367 gigawatt (GW) pembangkit listrik EBT pada tahun 2060.
Kapasitas PLTS akan menjadi 115 GW, pembangkit listrik terbesar, diikuti oleh PLTA (46 GW), PLT Amonia (41 GW), dan PLTB (37 GW). Selain itu, tidak ada tambahan pembangkit listrik batu bara setelah tahun 2030, kecuali yang sedang dalam tahap konstruksi.
Dengan transformasi sistem energi yang didominasi oleh energi terbarukan, terutama tenaga surya dan angin, Eniya menyebutkan akan muncul tantangan dalam hal stabilitas jaringan.
“Untuk mengelola berbagai energi terbarukan dalam jumlah besar di sektor listrik secara efektif, sumber teknologi yang menyediakan fleksibilitas perlu dipersiapkan,” ujar dia.
Lebih lanjut Eniya menjelaskan, perencanaan ini akan mencakup peninjauan kembali sistem pembangkit listrik hingga transmisi dan distribusi, termasuk penyimpanan energi, baik listrik maupun termal, dan berbagai tingkatan respons permintaan.
"Untuk itu, penyimpanan energi sangat penting untuk mendukung implementasi transisi energi. Penyimpanan energi dapat meningkatkan fleksibilitas sistem tenaga listrik dan memfasilitasi dekarbonisasi melalui energi terbarukan. Ada banyak pilihan teknologi penyimpanan energi, seperti baterai, pump storage, dan hidrogen hijau," terang Eniya.
Baca Juga
Pemerintah Terbitkan Perpres untuk Jamin Ketahanan Energi Nasional
Meski memiliki prospek yang besar, Eniya mengakui keberhasilan implementasi penyimpanan energi masih bergantung pada beberapa faktor, seperti tingginya biaya baterai, kerangka kebijakan yang mendukung, kemampuan industri dalam negeri, serta pengelolaan rantai nilai lokal dan limbah.
"Akan tetapi, kita tentu sadar bahwa Indonesia memiliki banyak potensi untuk mengembangkan rantai nilai penyimpanan energi yang lebih baik secara nasional. Sumber daya mineral yang melimpah serta permintaan yang terus meningkat akan mendorong pasar penyimpanan energi di masa depan," ungkapnya.

