Ancol Perkuat Komitmen ESG, Targetkan Penurunan Emisi hingga 60% pada 2030
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) menegaskan komitmennya terhadap praktik keberlanjutan dengan memperkuat kepatuhan pada prinsip environmental, social, and governance (ESG) dalam enam bulan terakhir sejak September 2025. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk menjaga relevansi bisnis hingga 20–50 tahun ke depan.
Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk Syahmudrian Lubis mengatakan bahwa upaya tersebut mencakup peningkatan kepatuhan terhadap standar efisiensi energi, keberlanjutan operasional, serta penguatan tata kelola perusahaan. Selain itu, perseroan saat ini tengah mengupayakan perolehan sertifikasi ISO 50001 guna memperkuat sistem manajemen energi yang lebih efisien dan terukur.
“Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh operasional berjalan selaras dengan prinsip ESG, termasuk dalam aspek efisiensi energi dan sustainability. Ini bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk komitmen jangka panjang perusahaan,” ujarnya menjawab pertanyaan Investortrust usai RUPST perseroan di Putri Duyung, Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Ancol menargetkan penurunan emisi hingga 60% pada 2030. Target ini sejalan dengan upaya mendukung agenda pengurangan emisi di tingkat daerah, khususnya di Jakarta, sekaligus memperkuat posisi Ancol sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan.
Baca Juga
RUPST Ancol Tebar Dividen Rp 41,6 Miliar, Siap Melangkah ke Fase Transformasi Baru
Ian biasa ia disapa menambahkan bahwa berbagai inisiatif tengah disiapkan untuk mencapai target tersebut, mulai dari optimalisasi penggunaan energi, efisiensi operasional, hingga penerapan teknologi ramah lingkungan di kawasan wisata.
Langkah ini juga dinilai sebagai bagian dari transformasi bisnis Ancol agar tetap kompetitif di tengah meningkatnya tuntutan terhadap praktik usaha berkelanjutan. Dengan strategi tersebut, Ancol berharap dapat memberikan kontribusi positif tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi masyarakat dan perekonomian Jakarta secara luas.
Pembangunan Jaya Ancol sebagai informasi memang tengah mempercepat transformasi kawasan wisata menjadi Low Emission Zone (LEZ) melalui berbagai inisiatif pengurangan emisi, mulai dari transportasi ramah lingkungan hingga efisiensi energi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menekan emisi gas rumah kaca (GRK) sekaligus mendukung target keberlanjutan di Ibu Kota.
Upaya tersebut mencakup pengendalian emisi kendaraan melalui program uji emisi gratis yang bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup. Selain itu, integrasi transportasi publik terus diperkuat guna mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi di kawasan wisata tersebut.
Salah satu langkah konkret adalah pengoperasian rute Transjakarta Blok M–Ancol yang sepenuhnya menggunakan unit bus listrik. Rute ini diharapkan mampu menekan emisi dari sektor transportasi sekaligus meningkatkan aksesibilitas menuju kawasan Ancol.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, sebelumnya menegaskan bahwa penggunaan armada listrik dalam rute tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menurunkan tingkat polusi udara di Jakarta. “Penambahan bus listrik ini diharapkan dapat secara bertahap menurunkan polusi,” ujarnya saat peresmian rute pada 2025.
Baca Juga
Tak hanya itu, Ancol juga mendorong efisiensi energi dalam operasional kawasan sebagai upaya menurunkan jejak karbon. Perusahaan bahkan menyiapkan layanan transportasi internal berbasis kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berupa bus “wara-wiri” untuk mobilitas pengunjung di dalam kawasan.
Pengembangan kawasan rendah emisi ini juga didukung rencana integrasi transportasi massal seperti MRT dan LRT, serta fasilitas ramah pesepeda. Upaya tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam memperluas implementasi LEZ guna menekan polusi udara.
Berdasarkan kajian Feasibility Assessment of Low Emission Zone oleh Breathe Jakarta pada 2025, penerapan kawasan rendah emisi secara terintegrasi berpotensi menurunkan konsentrasi polutan PM 2.5 hingga 30%.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, Ancol menargetkan diri sebagai percontohan kawasan wisata berkelanjutan di Jakarta. Transformasi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas lingkungan, tetapi juga menjaga daya saing kawasan dalam jangka panjang.

