Freeport Indonesia Targetkan Penurunan Emisi 30% pada 2030
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, mengungkap strategi perusahaan dalam upaya menekan penggunaan emisi dan menciptakan sirkulasi ekonomi berkelanjutan. Mulanya, ia menyebut, dalam agenda sustainability atau keberlanjutan global, tantangan terbesar adalah transisi energi.
Tony mengatakan, negara-negara dunia kini berupaya berinovasi menghasilkan energi dari bahan-bahan terbarukan. Ia menuturkan, negara-negara dunia juga berlomba untuk membangun adanya power plant yang renewable.
Menurutnya, hal tersebut di satu sisi menjadi peluang lantaran semuanya membutuhkan bahan mineral kritis.
Baca Juga
Ogah Bahas Divestasi Saham, Freeport Lagi Fokus Pulihkan Tambang
"Tadi yang dibicarakan adalah kami salah satu produsen mineral kritis dalam hal ini adalah tembaga, yang sudah ke hilir, sudah tadinya copper concentrate sekarang sudah menjadi copper cathod menyediakan kebutuhan tembaga untuk program energy transition. Itu tersedia di dalam negeri," kata dia di sela-sela agenda Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025, Jakarta International Convention Center (JICC), Sabtu (11/10/2025).
Terkait potensi ketersediaan mineral kritis yang disediakan oleh Freeport Indonesia, Tony Wenas mengklaim pihaknya melakukan pengelolaan dengan mengedepankan prinsip-prinsip berkelanjutan.
Ia mencontohkan, sebelumnya logistik transportasi yang membawa biji tembaga menggunakan truk-truk besar dengan bahan bakar diesel. Sementara kini, lanjutnya, 150.000 ton per hari biji tembaga tersebut dibawa menggunakan katalis yang memiliki nol emisi.
"Kami sedang mengubah atau mengkonversi power plant kami yang menggunakan batubara akan menjadi menggunakan LNG. Ini tentu saja akan mengurangi emisi karbon itu sangat signifikan," ungkap Tony.
Baca Juga
Tony Wenas: Pelepasan 12% Saham Freeport ke Pemerintah masih dalam Pembahasan
Dia membeberkan, Freeport Indonesia memiliki target menekan penggunaan emisi hingga 30% pada 2030. Target tersebut optimistis dicapai karena sampai saat ini, Freeprt Indonesia telah menekan penggunaan emisi hingga mencapai 28%.
"Jadi kalau kami mengganti pembangkit listrik batu bara kami dengan LNG power plant itu akan menurunkan emisi sangat signifikan. So it can be done in a sustainable way," ujarnya.

