Konflik Timur Tengah Memanas, Isuzu hingga Daihatsu Pastikan Harga Kendaraan Masih Stabil
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Sejumlah Agen Pemegang Merek (APM) kendaraan niaga memastikan belum ada rencana kenaikan harga kendaraan di tengah memanasnya konflik Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Meski begitu, pelaku industri tetap mewaspadai potensi dampak lanjutan terhadap biaya produksi dan permintaan pasar.
Business Strategy Division Head PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) Rian Erlangga mengatakan sejauh ini kinerja ekspor masih relatif stabil. “Permintaan ekspor masih relatif sama, belum ada penurunan, meski ada sedikit pengaruh dari fluktuasi harga minyak,” ujarnya di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Menurutnya, pasar ekspor utama Isuzu seperti Afrika, Amerika Selatan, dan Filipina belum terdampak signifikan oleh konflik geopolitik. Sementara kawasan Timur Tengah bukan menjadi pasar utama ekspor Isuzu Indonesia.
Dari sisi harga, APM juga masih menahan penyesuaian meski ada potensi kenaikan bahan baku. Customer Relation Division Head PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Sales Operation Tri Mulyono menyebut kondisi saat ini masih terkendali.
Baca Juga
Menperin Targetkan Pasar Otomotif Domestik Didominasi Kendaraan Listrik, Mobil Fosil Fokus Ekspor
“Kalau harga plastik naik mungkin ada pengaruh, tapi belum tentu ke harga jual karena ada strategi pricing,” kata Tri saat ditemui, Rabu (8/4/2026). Ia menegaskan hingga kini belum ada kenaikan harga kendaraan Daihatsu.
Sementara itu, Sales and Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) Aji Jaya menilai pasar kendaraan niaga 2026 masih memiliki prospek positif. Sektor logistik, manufaktur, dan infrastruktur disebut tetap menjadi penopang utama permintaan.
Namun, ia mengingatkan pelaku industri untuk tetap waspada terhadap dinamika global. “Isu geopolitik seperti di Timur Tengah bisa berdampak ke aktivitas bisnis dan pada akhirnya ke permintaan kendaraan komersial,” ujarnya secara terpisah.
Aji menambahkan, potensi kenaikan harga bahan bakar dan bahan baku menjadi faktor yang perlu dicermati ke depan. Meski demikian, adanya proyek pemerintah dinilai masih bisa menjaga pertumbuhan pasar kendaraan niaga.

