Pastikan Pasokan LPG Aman, Bahlil: LPG Kita Tidak Lewat Selat Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pasokan LPG untuk konsumsi dalam negeri tetap aman terkendali. Meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu penutupan Selat Hormuz, pasokan gas untuk distribusi nasional tetap terjaga.
Bahlil menjelaskan bahwa sumber impor LPG Indonesia saat ini tidak bergantung pada jalur Selat Hormuz. Hal ini dikarenakan diversifikasi pasokan yang telah dilakukan pemerintah dari berbagai negara produsen di luar kawasan konflik tersebut.
“LPG tidak ada urusannya dengan Selat Hormuz karena kita sudah mengambil pasokan dari Australia, Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga
Ketergantungan Impor LPG Naik Jadi 83,97% pada 2026, ESDM Siapkan Mitigasi Pasokan
Meski konflik Timur Tengah sempat memicu kekhawatiran publik terhadap ketahanan energi, Bahlil memastikan bahwa masa sulit telah terlewati dan cadangan stok LPG nasional berada dalam kondisi stabil dengan kapasitas di atas 10 hari. Pemerintah pun akan terus memperkuat pasokan dengan kedatangan kapal pengangkut dalam waktu dekat.
“Masa sulit kita untuk LPG sudah kita lewati sejak tanggal 4. Alhamdulillah sekarang cadangan kita untuk LPG kapasitasnya sudah di atas 10 hari,” tegas mantan Menteri Investasi tersebut. “Sebentar lagi kapal kita masuk, solar kita tidak lakukan impor. Yang kita lakukan itu tinggal (impor) bensin aja, tinggal kurang lebih sekitar 20 juta sampai 22 juta kiloliter itu saja,” imbuhnya.
Terkait ketergantungan pada wilayah Timur Tengah, Bahlil menerangkan bahwa Indonesia hanya mengimpor minyak mentah (crude) dari kawasan tersebut dengan porsi sekitar 20% hingga 25%. Namun, pemerintah telah berhasil mengamankan pasokan pengganti dari negara-negara seperti Angola, Nigeria, dan Amerika Serikat.
"Jadi kita insyaallah sudah clear lah. Insyaallah aman,” tutup Bahlil.

