Dolar AS Lagi Perkasa, Rupiah Terkoreksi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada Jumat (13/3/2026) pagi setelah indeks dolar global menguat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia dan kenaikan harga minyak dunia.
Pada pukul 09.24 WIB, rupiah turun 0,14% terhadap dolar AS. Pelemahan ini terjadi ketika indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, menguat hingga menembus level 99,69.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan penguatan dolar terjadi setelah DXY meningkat selama empat sesi perdagangan berturut-turut hingga mencapai level tertinggi sejak November 2024. Penguatan dolar dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait perkembangan konflik di kawasan Teluk Persia.
Baca Juga
Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS, Tanda Tensi Konflik Teluk Persia
Ia menjelaskan eskalasi konflik kembali meningkat setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyampaikan ancaman untuk menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia. Ketegangan tersebut mendorong lonjakan harga minyak global yang kemudian meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi.
“Sementara itu, lonjakan harga minyak terus berlanjut yang semakin memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi,” kata Andry.
Kondisi global tersebut turut memberikan tekanan terhadap pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil surat utang Pemerintah AS atau US Treasury berada di bawah tekanan di tengah kekhawatiran terhadap prospek fiskal negara tersebut.
Tekanan ini muncul terutama karena meningkatnya belanja pertahanan yang memperbesar kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat dalam jangka menengah.
Di sisi kebijakan moneter, pasar secara luas memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan pekan depan. Namun pelaku pasar akan mencermati pembaruan proyeksi suku bunga melalui dot plot, yaitu grafik yang menunjukkan perkiraan suku bunga dari para pembuat kebijakan The Fed untuk periode mendatang.
Saat ini pasar memperkirakan kemungkinan hanya terjadi satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun ini, dengan potensi terjadi pada September 2026. Seiring meningkatnya ketidakpastian global, dolar AS tercatat menguat terhadap sebagian besar mata uang utama dunia.
Baca Juga
Rupiah Menguat Tipis, Lonjakan Harga Minyak Bayangi Pergerakan
Investor juga tengah menanti rilis sejumlah indikator ekonomi penting dari Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah pasar keuangan global.
Salah satu data yang dinantikan adalah indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk Januari, yang menjadi indikator inflasi pilihan Federal Reserve. Data tersebut dijadwalkan dirilis pada hari ini, meskipun belum sepenuhnya mencerminkan dampak geopolitik terbaru terkait konflik Iran.
Selain itu, pasar juga menunggu rilis revisi pertama pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat untuk kuartal IV serta data kepercayaan konsumen pada Maret yang dapat memberikan gambaran tambahan mengenai kondisi ekonomi negara tersebut.

