Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS, Tanda Tensi Konflik Teluk Persia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (11/3/2026). Rupiah, di papan data Bloomberg, menguat 0,05% dan bertengger di posisi Rp 16.854 per US$.
Sejumlah mata uang juga menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,02%, euro Uni Eropa menguat 0,14%, poundsterling Britania Raya menguat 0,19%, dan rupee India menguat 0,57%, serta dolar Singapura menguat 0,07%.
Sementara itu, yen Jepang melemah 0,14%, peso Filipina melemah 0,03%, dan ringgit Malaysia melemah 0,09%.
Baca Juga
Rupiah Tertekan ke Level Rp17.000, Ekonom Sebut Akibat Respons Pasar Berlebihan
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan investor merasakan kelegaan awal dari turunnya harga minyak. Sementara itu, di sisi lain pelaku pasar mempertimbangkan tanda-tanda bahwa Iran mungkin menempatkan ranjau di kawasan tersebut.
Indeks dolar AS (DXY) tetap berada di bawah level 99 setelah penurunan tajam intraday pada sesi sebelumnya, karena harapan berakhirnya perang Iran secara cepat mengurangi permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven.
Presiden AS, Donald Trump mengatakan operasi militer AS di Iran hampir selesai dan berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan awal yang diproyeksikan memakan waktu empat hingga lima minggu. Ia juga menyatakan rencana untuk mencabut sanksi terkait minyak serta menugaskan Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz guna membantu menahan kenaikan harga minyak.
Baca Juga
Rupiah Tembus Rp 17.000 per US$, Indef Wanti-wanti Peningkatan Tekanan Ekonomi
Sebelumnya dolar AS menguat karena pembelian aset safe haven ketika konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran gangguan ekonomi berkepanjangan serta kembalinya tekanan inflasi.
“Ke depan, investor menunggu laporan CPI Februari pada Rabu dan indeks harga PCE Januari pada Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai tren inflasi, meskipun keduanya diperkirakan belum sepenuhnya mencerminkan dampak perang Iran,” kata dia.

