Bitcoin Nyaris Tembus US$ 72.000 usai Menkeu AS Redam Kekhawatiran Lonjakan Harga Minyak
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin menguat mendekati level US$ 72.000 pada perdagangan Jumat (13/3/2026) pagi waktu Asia. Kenaikan BTC setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent berupaya meredakan kekhawatiran pasar terkait lonjakan harga minyak yang dinilai dapat menekan perekonomian global.
Dalam pernyataannya pada Kamis (12/3/2026) malam waktu setempat, Bessent mengatakan pemerintahan Presiden AS Donald Trump tengah mengambil langkah untuk menjaga stabilitas pasar energi dan menekan tekanan harga minyak.
“Untuk meningkatkan jangkauan global dari pasokan yang ada, Departemen Keuangan AS memberikan otorisasi sementara untuk mengizinkan negara-negara membeli minyak Rusia yang saat ini terperangkap di laut,” kata Bessent melansir Coindesk, Jumat (13/3/2026).
Baca Juga
Bitcoin Terpukul Sentimen Perang Timur Tengah dan Lonjakan Harga Energi, Ini Prediksi Para Analis
Ia juga menilai kenaikan harga minyak yang terjadi saat ini hanya bersifat sementara dan tidak perlu disikapi berlebihan oleh pasar. Menurut dia, lonjakan harga energi saat ini merupakan gangguan jangka pendek yang pada akhirnya akan memberikan manfaat lebih besar bagi perekonomian AS dalam jangka panjang.
Pernyataan tersebut muncul di tengah kekhawatiran pasar terhadap dampak ekonomi dari kenaikan harga minyak. Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak hampir 10% hingga mendekati US$ 100 per barel pada Kamis, yang turut menekan pasar saham AS ke zona pelemahan tajam.
Baca Juga
Inflasi AS Sesuai Perkiraan, Arah Bitcoin Kini Menunggu The Fed
Di tengah volatilitas tersebut, Bitcoin yang sepanjang hari mampu bertahan di atas level US$ 70.000, langsung menguat setelah pernyataan Bessent dirilis. Aset kripto terbesar di dunia itu tercatat naik ke kisaran US$ 71.365 dan sempat bergerak mendekati US$ 72.000, atau menguat sekitar 2,2% dalam 24 jam terakhir.
Sementara itu, harga minyak mentah WTI mulai bergerak turun setelah pernyataan tersebut. WTI tercatat melemah sekitar US$ 2 per barel dan diperdagangkan di level US$ 95,22. Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen pasar, termasuk aset kripto, masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, harga energi, dan kebijakan pemerintah AS dalam menjaga stabilitas ekonomi.

