Lonjakan Harga Minyak Seret Wall Street ke Level Terendah 2026, Dow Ambles Lebih 700 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS tertekan pada Kamis waktu AS atau Jumat (13/3/2026) WIB. Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 739,42 poin, atau 1,56%, ditutup di 46.677,85. Indeks S&P 500 kehilangan 1,52% dan berakhir di 6.672,62, sedangkan Nasdaq Composite merosot 1,78% menjadi 22.311,98.
Ketiga indeks tersebut mencatat penutupan terendah pada 2026, dan indeks Dow, yang berisi 30 saham unggulan, mengakhiri sesi di bawah ambang 47.000 untuk pertama kalinya tahun ini.
Baca Juga
Minyak Brent Tembus US$ 100 meski 32 Negara Siap Lepas Cadangan, Mengapa?
Harga minyak masih bergolak di tengah kekhawatiran gangguan pasokan, sementara perang Iran terus berlanjut. Harga minyak mentah terus naik setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang ditunjuk pada 9 Maret, mengatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai “alat untuk menekan musuh.”
Kontrak berjangka West Texas Intermediate naik 9,72% dan ditutup pada $95,73 per barel. Sementara itu, minyak Brent naik 9,22% dan ditutup di $100,46 per barel — penutupan pertama di atas $100 sejak Agustus 2022.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada CNBC pada Kamis bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat “belum siap” untuk mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, meskipun ia mengatakan hal itu kemungkinan dapat dilakukan pada akhir bulan ini. Lalu lintas di kawasan tersebut praktis terhenti karena konflik di Timur Tengah meningkat.
Pada malam hari, tiga kapal asing tambahan diserang di Teluk Persia, menurut otoritas setempat. Hal itu terjadi setelah tiga kapal lainnya, termasuk satu di Selat Hormuz, terkena serangan pada Rabu.
Pasukan AS pada Selasa menenggelamkan 16 kapal Iran yang menebar ranjau di dekat selat tersebut. Perusahaan asuransi Chubb juga diumumkan sebagai penjamin utama untuk program yang dipimpin pemerintah AS guna menyediakan asuransi bagi kapal yang mencoba melintasi jalur penting tersebut.
“Strategi Iran menebar kekacauan ekonomi di Teluk tampaknya berhasil ketika tanker diserang dan Hormuz tetap ditutup, mendorong Brent menuju $100,” kata Adam Crisafulli dari Vital Knowledge dalam sebuah catatan, seperti dikutip CNBC.
“AS dan Israel memiliki dominasi militer dan program rudal serta nuklir Iran mungkin telah dilemahkan, tetapi pemerintahan garis keras Teheran tetap mengakar kuat, dan rencananya sekarang tampaknya memanfaatkan minyak untuk menekan,” tambahnya.
Untuk membantu meredakan biaya energi, Wright mengatakan pada Rabu malam bahwa AS akan melepaskan 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve. Pengiriman bahan bakar tersebut diperkirakan memakan waktu sekitar 120 hari.
Badan Energi Internasional (IEA) juga menyetujui pelepasan terkoordinasi sebanyak 400 juta barel minyak dalam upaya mengatasi gangguan pasokan akibat perang. Namun harga minyak tetap naik pada sesi sebelumnya karena kekhawatiran konflik dapat berlangsung lama.
Presiden Donald Trump sebelumnya pekan ini mengatakan perang akan berakhir “sangat segera,” yang sempat meredakan lonjakan harga minyak setelah menembus $100 per barel.
“Jika biaya energi dan harga bensin tetap pada level saat ini atau naik dalam jangka waktu tertentu akibat perkembangan di Timur Tengah, hal itu dapat menekan sentimen konsumen dan menempatkan isu keterjangkauan kembali ke pusat perhatian menjelang pemilu paruh waktu,” kata Anthony Saglimbene, kepala strategi pasar di Ameriprise.
Meski demikian, menurut dia, secara keseluruhan neraca konsumen tetap dalam kondisi solid, pendapatan dan kondisi pekerjaan saat ini kuat, dan inflasi terus mereda di beberapa sektor penting, terutama perumahan. “Seiring waktu, jika inflasi terus mereda (di luar dampak energi yang bersifat sementara) dan pasar serta ekonomi tetap stabil, sikap masyarakat Amerika terhadap kemampuan mereka membiayai kehidupan sehari-hari bisa membaik,” tambahnya.
Meski konflik terus berlangsung, penurunan S&P 500 relatif terbatas, dengan indeks acuan itu hanya turun sedikit lebih dari 4% dari rekor tertinggi yang dicapai pada Januari.
Baca Juga
Delapan dari 11 sektor dalam S&P 500 mencatat kinerja negatif pada Kamis, dengan saham perbankan dan teknologi berada di zona merah. Morgan Stanley memimpin penurunan sektor keuangan setelah membatasi penarikan dana dari private credit fund. Sementara itu, saham energi, termasuk Chevron dan Exxon Mobil, menjadi salah satu yang berada di zona hijau.

