Harga Emas vs Perak, Siapa Pemenang Sejak 1980?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dan perak bergerak liar beberapa waktu lalu hingga awal Februari 2026, setelah reli tajam berbalik arah dengan koreksi besar yang menyoroti volatilitas dua logam mulia tersebut serta implikasinya bagi investor global.
Dilansir Gold Eagle, Minggu (8/2/2026), harga perak sempat menyentuh sekitar US$ 120 per ons atau setara Rp 1,86 juta per ons (asumsi kurs Rp 15.500 per dolar AS) sebelum anjlok hampir 40% dalam 1 hari ke level intraday US$ 73. Rebound kemudian membawa harga kembali ke US$ 84 pada penutupan Jumat (30/1/2026), sebelum ditutup di US$ 77 pada Kamis (6/2/2026), turun sekitar 8% dari level pascakejatuhan pekan sebelumnya.
Analis, penulis, dan pemilik Kelsey's Gold Facts, Kelsey Williams mengatakan harga emas juga terkoreksi setelah sempat menyentuh US$ 5.500 per ons atau sekitar Rp 85,25 juta per ons. Logam kuning itu turun di bawah US$ 5.000 dengan pelemahan sekitar 11% pada Jumat (30/1/2026) dan ditutup di US$ 4.966 pada Kamis (6/2/2026), beberapa dolar di bawah harga penutupan Jumat sebelumnya.
Alih-alih memprediksi arah selanjutnya, pergerakan terbaru ini lebih relevan dipahami dengan melihat rekam jejak historis emas dan perak dalam beberapa siklus besar sejak 2016, 2011, 2001, hingga 1980. Pendekatan tersebut membantu menjelaskan pola volatilitas dan daya tahan masing-masing logam dalam jangka panjang.
Baca Juga
Investor Berburu Aset Aman, Harga Emas dan Perak Lanjut Menguat
Emas vs Perak Sejak 2016
Harga emas pada Desember 2015 berada di US$ 1.060 per ons, sementara perak US$ 13,80. Dalam periode Januari 2016 hingga Januari 2026, harga emas meningkat sekitar 4,68 kali menjadi US$ 4.966 atau naik 368%. "Pada periode yang sama, perak melonjak lebih tinggi, sekitar 5,62 kali menjadi US$ 77,69 atau naik 462%," kata Kelsey.
Secara angka, kinerja perak terlihat lebih unggul. Namun, emas sebenarnya mengungguli perak selama 9 tahun pertama dalam periode tersebut. Perubahan baru terjadi dalam 9 bulan terakhir ketika harga perak melesat dari sekitar US$ 30 pada April 2025 hingga mencapai puncak terbaru di kisaran US$ 120. Sebagian besar keunggulan itu kemudian terkikis hanya dalam satu minggu terakhir akibat koreksi tajam.
Perbedaan karakteristik ini menegaskan satu hal penting. Kinerja perak cenderung lebih buruk dibanding emas saat pasar berbalik turun, terutama setelah periode reli ekstrem.
Emas vs Perak Sejak 2011
Harga emas mencapai puncak di sekitar US$ 1.895 per ons pada 2011, sementara perak menyentuh US$ 48,70. Setelah itu, emas terkoreksi sekitar 44% dan perak jatuh lebih dalam hingga 72%.
Jika dihitung dari puncak 2011 hingga level saat ini, emas masih mencatat kenaikan sekitar 162% dari US$ 1.895 menjadi US$ 4966. Sebaliknya, perak hanya naik sekitar 60% dalam periode yang sama. Perbedaan ini menegaskan daya tahan emas yang relatif lebih stabil dibanding perak dalam siklus jangka panjang.
Baca Juga
Emas vs Perak Sejak 2001 dan 1980
Sejak titik terendah 2001, harga emas meningkat sekitar 1.870% dari US$ 270 menjadi US$ 4.966. Pada periode yang sama, perak naik sekitar 1.850% dari US$ 3,98 menjadi US$ 77,69. "Secara bersih, keduanya terlihat hampir setara, meski emas sedikit lebih unggul," kata Kelsey.
Namun, volatilitas perak jauh lebih tinggi. Logam putih tersebut mengalami kinerja yang buruk selama bertahun-tahun sebelum reli terakhir, sehingga menekan hasil jangka panjangnya.
Pada 2001, perak turun sekitar 92% dari puncak 1980 yang mendekati US$ 50 per ons. Emas juga turun tajam pada periode yang sama, sekitar 68% dari level tertinggi US$ 847, tetapi tidak sedalam koreksi perak.
Jika dihitung dari puncak 1980, emas telah meningkat hampir enam kali lipat atau sekitar 490% hingga mencapai US$ 4.966 saat ini. Sebaliknya, perak hanya naik sekitar 55% pada harga terkini US$ 77,69.
Agar mampu menyamai kenaikan emas sejak 1980, harga perak diperkirakan perlu mencapai sekitar US$ 300 per ons. Sejumlah pelaku pasar menilai skenario tersebut mungkin terjadi, meski waktunya masih belum pasti.
Volatilitas Tinggi dan Implikasi Investasi
Kelsey mengatakan, narasi fundamental yang kuat mengenai perak, termasuk ekspektasi penyesuaian harga besar dan lonjakan kinerja dalam beberapa bulan terakhir, belum mampu menghapus catatan historisnya yang penuh volatilitas dan kinerja jangka panjang yang lebih lemah dibanding emas.
Baca Juga
Logam Mulia Rebound di Tengah Volatilitas Pasar, Harga Emas Melonjak Hampir 4%
Euforia pasar dalam tiga bulan terakhir lebih mencerminkan pola yang pernah terjadi 2011 dan 1980 dibandingkan awal dari tren kenaikan struktural baru. "Saya lebih memilih memiliki emas daripada perak. Jika Anda adalah penerima manfaat dari popularitas perak yang sedang naik daun, pertimbangkan untuk beralih ke emas," kata Kelsey.
Berdasarkan angka-angka di atas, emas tetap menang dalam jangka panjang karena stabilitas, daya tahan, dan kemampuannya mempertahankan nilai saat siklus pasar berbalik.

