Emas Akan Terus Berkilau
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Ibarat peribahasa “emas tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan”, gejolak harga emas global yang sempat merambat ke logam mulia di dalam negeri setelah kejatuhan tajam pekan lalu, justru dinilai membuka ruang penguatan baru. Koreksi yang terjadi dipandang bukan sebagai akhir tren, melainkan fase penyesuaian sebelum potensi kenaikan berikutnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan proyeksi bullish sejumlah lembaga riset global serta tren pembelian masif oleh bank sentral dunia yang terus berupaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS melalui diversifikasi cadangan devisa.
Daya tarik emas juga tercermin dari perilaku investor ritel. “Saya tetap beli emas walau sempat turun, karena buat jaga nilai uang. Turun sedikit itu biasa, yang penting jangka panjang,” ujar Rina, investor ritel kepada Investortrust.id di Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Rp 100.000, Waktunya Serok atau Tunggu?
Sebelumnya, harga emas global sempat mencetak rekor beruntun sebelum terkoreksi tajam pekan lalu akibat perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar. Meski demikian, banyak pengamat menilai koreksi tersebut lebih bersifat jangka pendek.
Sejumlah lembaga keuangan bahkan tetap memandang prospek jangka menengah dan panjang emas masih kuat. Faktor risiko global yang belum mereda serta permintaan fisik yang stabil, terutama dari bank sentral dan investor, diperkirakan akan terus menopang harga.
Proyeksi kenaikan pun masih dominan. Mengutip Reuters, JPMorgan dalam riset terbarunya yang dipublikasikan awal Februari 2026 memproyeksikan harga emas dunia dapat mencapai US$ 6.300 per troy ons pada akhir 2026.
Sementara itu, Bank of America (BofA) Securities menargetkan harga emas di level US$ 6.000 dalam beberapa bulan mendatang. Goldman Sachs memprediksi harga emas mencapai US$ 5.400 pada Desember 2026, Morgan Stanley memperkirakan di kisaran US$ 4.400–4.500 pada pertengahan 2026, dan Citi Research meramal US$ 5.000 dalam 0–3 bulan ke depan.
Kinerja harga emas sepanjang tahun ini turut menguatkan optimisme tersebut. Sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) 2026, emas telah menguat lebih dari 11%, melanjutkan lonjakan tajam sekitar 64% sepanjang 2025.
Rekor harga pun tercipta beruntun. Level tertinggi sepanjang masa mendekati US$ 5.600 per troy ons dicetak pada 29 Januari 2026. Sebelumnya, rekor terjadi pada Oktober 2025 di sekitar US$ 4.058,98 per troy ons. Jika ditarik lebih jauh, pada September 2025 emas berada di kisaran US$ 3.747, April 2025 sekitar US$ 3.313, dan Desember 2023 di kisaran US$ 2.070 per troy ons—melampaui puncak tahun 2020.
Dari sisi fundamental, laporan Gold Demand Trends: Full Year 2025 yang dirilis World Gold Council (WGC) menegaskan kuatnya pasar emas global. Sepanjang 2025, total permintaan emas dunia mencapai 5.002 ton, tertinggi sepanjang masa, dengan nilai investasi tahunan menembus US$ 555 miliar.
Baca Juga
Ketegangan geopolitik
Kenaikan harga emas tidak lepas dari meningkatnya ketidakpastian global. Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tren kenaikan masih berpotensi berlanjut karena berbagai risiko geopolitik belum mereda. “Secara jangka menengah dan panjang, harga emas dunia masih akan terus mengalami kenaikan,” kata Ibrahim kepada Investortrust.id, Jumat (6/2/2026).
Ia menyoroti ketidakpastian hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih membayangi pasar global. Menurutnya, arah perundingan kedua negara belum menunjukkan kepastian hasil. “Kita juga belum tahu apakah benar-benar pertemuan antara Amerika dan Iran akan menghasilkan kesepakatan atau tidak,” ujarnya.
Perbedaan kepentingan menjadi faktor utama. Iran dinilai fokus pada isu reaktor nuklir, sementara AS lebih menyoroti kemampuan militer negara tersebut. Ketidaksinkronan ini berpotensi memperpanjang ketegangan.
Di Eropa, konflik Rusia dan Ukraina juga dipandang belum sepenuhnya mereda. Potensi pembahasan wilayah perbatasan dalam pertemuan kedua pihak justru berisiko menambah tekanan geopolitik. “Ini pun kemungkinan akan terus menjadi satu beban,” kata Ibrahim.
Ia menambahkan, Ukraina diperkirakan tetap menolak kendali Rusia atas wilayah tertentu sehingga tensi konflik berpotensi berlanjut.
Dinamika politik AS dan perang dagang
Selain konflik militer, dinamika politik AS turut menjadi faktor yang memengaruhi sentimen pasar. Pemilihan anggota legislatif diperkirakan dapat mengubah keseimbangan kekuasaan politik.
“Secara perpolitikan juga kemungkinan akan memanas karena bersamaan dengan pemilu sela di AS untuk memilih anggota DPR. Kemungkinan besar akan dimenangkan Partai Demokrat dan ini yang akan sedikit menggoyang kekuasaan Trump di Amerika,” kata Ibrahim.
Risiko perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga masih menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi global.
Dengan kombinasi faktor tersebut, Ibrahim optimistis harga emas dunia masih memiliki ruang kenaikan hingga akhir tahun di kisaran US$ 6.500, dengan potensi mencapai sekitar US$ 6.200 pada pertengahan tahun.
Faktor struktural lain yang tidak kalah penting adalah pembelian besar-besaran oleh bank sentral. JPMorgan memperkirakan pembelian emas bank sentral dunia dapat mencapai sekitar 800 ton pada 2026 sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.
Data WGC juga menunjukkan permintaan dari bank sentral cukup tinggi pada 2025, dengan sektor resmi menambah 863 ton emas. Meski berada di bawah ambang 1.000 ton yang terlampaui dalam 3 tahun sebelumnya, pembelian tersebut tetap menjadi faktor penting penopang permintaan global.
Tren ini mencerminkan upaya banyak negara untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS serta memperkuat stabilitas nilai tukar melalui cadangan berbasis aset riil.
Koreksi sesaat
Di tengah tren positif tersebut, koreksi harga emas pekan lalu dinilai lebih bersifat teknikal setelah periode reli panjang. Banyak analis melihat koreksi justru membuat pergerakan harga lebih sehat untuk melanjutkan tren naik.
Menurut Ibrahim, faktor utama berasal dari ekspektasi kebijakan bank sentral Amerika Serikat serta dinamika geopolitik yang memengaruhi persepsi risiko investor.
“Kalau harga emas dunia terkoreksi, ya karena Presiden Donald Trump memilih Kevin Wall sebagai ketua Fed. Pasar menganggap Wall cenderung mempertahankan suku bunga tinggi. Ini yang ditakutkan investor,” kata dia.
Pergerakan emas memang sangat sensitif terhadap kebijakan moneter AS. Saat suku bunga The Fed tinggi dan dolar menguat, emas cenderung tertekan. Sebaliknya, ekspektasi penurunan suku bunga membuat emas lebih menarik karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Baca Juga
Investor Berburu Aset Aman, Harga Emas dan Perak Lanjut Menguat
Dampak ke harga emas domestik
Pergerakan harga emas global turut memengaruhi pasar domestik, termasuk produk PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam. Namun, di Indonesia terdapat faktor tambahan berupa ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pasokan.
Permintaan emas batangan dan perhiasan kerap melampaui produksi dalam negeri sehingga harus dipenuhi melalui impor. Kondisi ini membuat harga emas domestik tidak hanya dipengaruhi harga global, tetapi juga nilai tukar rupiah dan biaya impor. Ketergantungan pada impor membuat harga domestik semakin sensitif terhadap volatilitas global, mulai dari pergerakan dolar, suku bunga, hingga ketegangan geopolitik.
Mengutip laporan WGC, total permintaan emas konsumen di Indonesia sepanjang 2025 mencapai 48,2 ton atau tumbuh 2% secara tahunan. Meski pertumbuhan relatif moderat, terjadi pergeseran signifikan ke produk investasi. Permintaan emas batangan dan koin melonjak 29% menjadi 31,6 ton, didorong kebutuhan lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.
Di sisi pasokan, emas yang diproduksi Antam hanya sekitar 1 ton per tahun, jauh di bawah kebutuhan konsumen nasional. Padahal, potensi produksi emas Indonesia diperkirakan bisa mencapai 90 ton per tahun. Bahkan data US Geological Survey menyebut rata-rata produksi emas Indonesia berkisar 100 ton per tahun.
Untuk menutup kesenjangan, Antam mengandalkan pembelian dari pasar lokal atau buyback dari emas yang dimiliki masyarakat, kerja sama dengan perusahaan tambang domestik yang memurnikan di Antam, hingga impor dari lembaga yang terafiliasi dengan London Bullion Market Association (LBMA).
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy menilai salah satu alasan perusahaan tambang enggan menjual emasnya ke Antam adalah karena pihak perusahaan pelat merah itu hanya bersedia untuk membeli emas saja.
Antam terkendala membeli mineral ikutan lainnya, seperti perak untuk dibeli secara bundling lantaran ada beban dari sisi perpajakan. Bagi perusahaan tambang, skema tersebut menyulitkan karena mereka harus menjual perak secara terpisah.
Baca Juga
Setelah Tertekan, Harga Emas Antam (ANTM) Kembali Mengkilap Naik Rp 102.000
Emas tetap jadi tempat berlindung
Dengan berbagai dinamika tersebut, banyak analis meyakini emas akan tetap menjadi aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian global. Risiko geopolitik, inflasi, hingga perlambatan ekonomi terus mendorong investor mencari aset aman. Meski volatilitas jangka pendek sulit dihindari, konsensus global menunjukkan tren jangka panjang emas tetap positif.
Ekonom asal Inggris yang paling berpengaruh abad 20 John Maynard Keynes pernah menyebut emas sebagai “barbarous relic" (peninggalan barbar). Namun ironinya, di era modern justru logam ini kembali menjadi instrumen perlindungan utama ketika sistem keuangan dan ekonomi menghadapi tekanan.
Pada akhirnya, seperti pepatah lama, emas tetap menjadi tempat berlabuh saat badai ekonomi datang. Semakin sering dunia dilanda ketidakpastian, semakin kuat pula kilau logam mulia tersebut.
Di tengah kondisi tersebut, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) justru berada pada posisi yang semakin menarik. Harga saham EMAS saat ini masih mencerminkan asumsi konservatif, sementara realisasi harga emas global berada jauh di atas asumsi tersebut.
Beberapa poin utama yang mendukung EMAS, yakni koreksi emas bersifat jangka pendek, sementara outlook jangka menengah–panjang tetap positif. EMAS akan segera memasuki fase produksi, dengan Proyek Emas Pani diproyeksikan menghasilkan lebih dari 90.000 ounce emas per tahun pada tahap awal.
Baca Juga
Merdeka Gold (EMAS) Percepat Pengembangan Proyek Emas Pani, Tingkatkan Kapasitas Heap Leach
Struktur biaya yang kompetitif membuat EMAS tetap resilient dalam berbagai skenario harga emas. Leverage ke harga emas tetap besar, sehingga normalisasi sentimen pasar berpotensi langsung tercermin pada kinerja EMAS.
Dengan kata lain, pelemahan harga emas saat ini lebih merupakan noise, bukan perubahan arah. Fundamental EMAS terus bergerak ke fase yang lebih matang, sementara valuasi sahamnya masih tertinggal dari realitas harga emas global.

