Emas Terkena Profit Taking, tapi Cetak Kinerja Bulanan Terbaik Sejak 1980-an
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas turun pada Kamis (30/1/2026) waktu AS setelah investor mengambil keuntungan seusai menyentuh rekor tertinggi. Meski terkoreksi, emas masih berada pada jalur kinerja bulanan terbaik sejak era 1980-an, ditopang lonjakan ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global yang menjaga daya tarik aset lindung nilai ini.
Harga emas spot turun 1,3% menjadi US$ 5.330,20 per ons. Pergerakan ini terjadi setelah logam mulia tersebut sempat menyentuh rekor tertinggi US$ 5.594,82 pada sesi yang sama, sebelum berbalik arah dan jatuh lebih 5% ke level terendah pada US$ 5.109,62 per ons.
Kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Februari ditutup 0,3% lebih rendah di US$ 5.318,40 per ons. Koreksi ini terjadi seiring investor merealisasikan keuntungan setelah reli tajam dalam beberapa pekan terakhir.
“Kita menyaksikan aksi jual besar-besaran setelah logam mulia mencapai rekor tertinggi baru-baru ini,” kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger dilansir CNBC.
Baca Juga
'Hype' Emas dan Perak Salip Kripto, Awas Risiko FOMO di Pasar
Meski terkoreksi harian, kinerja emas secara bulanan tetap solid. Harga emas masih naik sekitar 24% sepanjang bulan ini dan 7% secara mingguan, menjadikannya performa bulanan terkuat sejak dekade 1980-an.
Optimisme terhadap prospek emas juga tercermin dari pembaruan proyeksi lembaga keuangan global. UBS menaikkan perkiraan harga emas menjadi US$ 6.200 per ons untuk tiga kuartal pertama tahun ini, meski memproyeksikan harga akan turun ke US$ 5.900 per ons pada akhir 2026.
Permintaan emas semakin meluas, tidak hanya dari investor tradisional dan bank sentral, tetapi juga dari sektor aset digital. “Logam mulia sedang menjadi sorotan dan investor selalu ingin berinvestasi di tempat yang menawarkan keuntungan tinggi,” kata Direktur Pelaksana GoldSilver Central Brian Lan.
Ketidakpastian geopolitik turut menopang minat terhadap emas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (29/1/2026) mendesak Iran untuk merundingkan kesepakatan nuklir, sementara Teheran mengancam akan membalas Amerika Serikat, Israel, dan sekutu-sekutunya. Eskalasi tensi ini memperkuat peran emas sebagai aset lindung nilai.
Di sisi lain, CEO grup kripto Tether mengatakan perusahaannya berencana mengalokasikan 10%-15% dari portofolio investasinya ke emas fisik. Pada saat yang sama, dana yang diperdagangkan di bursa berbasis emas terbesar di dunia, SPDR Gold Trust, mencatatkan kepemilikan emas pada level tertinggi dalam hampir 4 tahun terakhir.
Baca Juga
Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Emas Antam (ANTM) Naik Rp 165.000
Dari sisi kebijakan moneter, Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah pada Rabu (28/1/2026). Pasar kini menantikan pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai pengganti Ketua Federal Reserve Jerome Powell, yang masa jabatannya berakhir pada Mei. Investor memperkirakan bank sentral masih akan memangkas suku bunga pada Juni, faktor yang berpotensi kembali mendukung harga emas.
Tekanan juga terlihat pada logam mulia lain. Harga perak turun 2,1% menjadi US$ 114,141 per ons setelah sebelumnya mencapai US$ 121,64. Meski demikian, harga perak masih melonjak lebih dari 60% sepanjang bulan ini, didorong defisit pasokan dan kuatnya momentum pembelian.

