Harga Minyak Turun Seusai Trump Redam Isu Serangan ke Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga minyak turun lebih 1% pada Rabu (14/1/2206) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan kemungkinnan tidak akan menyerang Iran, sehingga memicu perubahan sentimen pasar yang sebelumnya dibayangi kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah.
Harga minyak mentah Amerika Serikat turun 95 sen atau 1,55% menjadi US$ 60,20 per barel pada pukul 16.17 waktu AS. Patokan global Brent turun 93 sen atau 1,42% menjadi US$ 64,54 per barel.
“Kita telah diberitahu bahwa pembunuhan di Iran sedang berhenti. Sudah berhenti. Sedang berhenti dan tidak ada rencana untuk eksekusi,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval.
Baca Juga
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden sebelumnya mengancam akan mengambil tindakan yang sangat keras terhadap Iran jika mereka mengeksekusi para demonstran.
Harga minyak sempat ditutup 1% lebih tinggi pada Rabu, tetapi berbalik arah dalam perdagangan lanjutan setelah pasar menafsirkan pernyataan Trump sebagai sinyal bahwa serangan militer mungkin tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Trump mengatakan Amerika Serikat sedang memantau situasi di Iran ketika ditanya secara langsung apakah tindakan militer dikesampingkan.
“Kita akan mengamati dan melihat bagaimana prosesnya,” kata presiden.
“Kita telah menerima pernyataan yang sangat baik dari orang-orang yang mengetahui apa yang terjadi. Semua orang membicarakan banyak eksekusi yang terjadi hari ini. Kita baru saja diberitahu bahwa tidak ada eksekusi. Saya harap itu benar. Itu hal yang besar.”
Baca Juga
Kekhawatiran Iran Dorong Harga Minyak, Pasar Cermati Venezuela
Seemntara pasukan keamanan Iran sebelumnya melancarkan penindakan terhadap demonstrasi besar-besaran, dengan ratusan orang dilaporkan tewas. Pemerintah Iran juga memutus akses internet sehingga menyulitkan dunia luar untuk memverifikasi perkembangan situasi di lapangan.
Iran merupakan anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan salah satu produsen minyak mentah utama dunia. Para pedagang terus memantau apakah gejolak sosial di Republik Islam tersebut akan mengganggu pasokan minyak global.

