Harga Minyak Turun, Investor Waspadai Suplai Berlebih
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga minyak turun pada Selasa (6/1/2026) ketika pasar menimbang ekspektasi pasokan global yang diperkirakan melimpah pada tahun ini, di tengah ketidakpastian produksi minyak mentah Venezuela setelah Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Nicolas Maduro. Tekanan harga menjadi relevan karena mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi kelebihan pasokan di saat permintaan belum menunjukkan pemulihan kuat.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 1,72% atau US$ 1,06 menjadi US$ 60,70 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) acuan AS ditutup pada US$ 57,13 per barel, turun 2,04% atau US$ 1,19. Penurunan ini terjadi meski risiko geopolitik meningkat, menandakan faktor fundamental pasokan lebih dominan dalam pembentukan harga.
“Terlalu dini untuk mengevaluasi dampak penangkapan Nicolas Maduro terhadap keseimbangan minyak. Namun, yang tampak jelas adalah bahwa pasokan minyak akan mencukupi pada 2026, dengan atau tanpa peningkatan produksi dari anggota OPEC,” kata Analis PVM Oil Tamas Varga.
Baca Juga
Trump Terus Terang Selain Narkoba, Minyak Jadi Alasan AS Serang Venezuela
Hasil survei Reuters pada Desember 2025 menunjukkan para pelaku pasar memperkirakan harga minyak akan berada di bawah tekanan pada 2026 akibat meningkatnya pasokan dan melemahnya permintaan. Sentimen tersebut memperkuat ekspektasi bahwa reli harga akan terbatas dalam jangka menengah.
Ketidakpastian meningkat setelah penangkapan pemimpin Venezuela oleh AS pada Sabtu (3/1/2026) yang memperbesar peluang berakhirnya embargo AS terhadap minyak Venezuela dan berpotensi mendorong peningkatan produksi. Namun, proses pemulihan diperkirakan tidak instan dan sangat bergantung pada stabilitas politik serta arus investasi.
“Kami memperkirakan hanya tambahan pasokan sebesar 300.000 barel per hari dalam dua hingga tiga tahun ke depan dengan pengeluaran tambahan yang terbatas. Sebagian dari ini dapat dibiayai secara organik oleh PDVSA, tetapi modal internasional perlu dikucurkan agar produksi mencapai 3 juta barel per hari pada 2040 menjadi mungkin,” kata Analis Rystad Janiv Shah.
Sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump berencana bertemu dengan para eksekutif perusahaan minyak AS minggu ini untuk membahas peningkatan produksi minyak Venezuela. Pertemuan ini dinilai sebagai sinyal awal potensi perubahan kebijakan terhadap sektor energi Venezuela.
Venezuela, anggota pendiri Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), memiliki cadangan minyak terbesar di dunia sekitar 303 miliar barel. Namun, sektor minyak negara itu telah lama mengalami penurunan akibat kurangnya investasi dan sanksi AS, dengan produksi rata-rata tahun lalu sekitar 1,1 juta barel per hari.
Para analis minyak memperkirakan produksi Venezuela dapat meningkat hingga setengah juta barel per hari dalam dua tahun ke depan jika tercapai stabilitas politik dan ada investasi dari AS. Meski demikian, pasar tetap berhati-hati menilai kecepatan realisasi peningkatan tersebut.
Baca Juga
Sementara Reliance Industries menyatakan pada Selasa bahwa mereka tidak mengharapkan pengiriman minyak mentah Rusia pada Januari. Langkah ini berpotensi memangkas impor minyak Rusia ke India secara tajam selama bulan tersebut ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Pernyataan Reliance muncul setelah Trump pada Minggu (4/1/2026) memperingatkan bahwa AS dapat menaikkan tarif impor lebih lanjut terhadap India terkait pembelian minyak Rusia. Tekanan kebijakan ini menambah lapisan ketidakpastian bagi arus perdagangan minyak global.

