Kekhawatiran Iran Dorong Harga Minyak, Pasar Cermati Venezuela
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga minyak naik pada Senin (12/1/2026) waktu AS setelah kekhawatiran bahwa Iran dapat mengurangi ekspor selama penindakan terhadap demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir mengimbangi ekspektasi peningkatan pasokan dari Venezuela, anggota OPEC yang juga terkena sanksi. Kenaikan ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap risiko geopolitik yang berpotensi mengganggu arus pasokan global.
Harga minyak mentah Brent berjangka naik 67 sen atau 1,1% menjadi US$ 64,01 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) acuan Amerika Serikat (AS) naik 38 sen atau 0,6% ditutup pada level US$ 59,50 per barel. Pergerakan ini terjadi ketika pelaku pasar menyeimbangkan risiko gangguan pasokan dengan potensi tambahan produksi dari negara-negara yang sebelumnya dibatasi sanksi.
Iran pada Senin menyatakan tetap membuka jalur komunikasi dengan Amerika Serikat, sementara Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan tanggapan terhadap penindakan keras yang mematikan terhadap protes nasional. Gelombang demonstrasi ini menjadi salah satu tantangan terberat bagi pemerintahan ulama sejak Revolusi Islam 1979. Trump diperkirakan akan bertemu dengan penasihat senior pada Selasa (13/1/2206) untuk membahas opsi terkait Iran, kata seorang pejabat AS kepada Reuters.
Baca Juga
Perkembangan di Venezuela turut menjadi sorotan pasar. Negara Amerika Latin tersebut diperkirakan akan segera melanjutkan ekspor minyak setelah penggulingan Presiden Nicolas Maduro. Trump mengatakan pekan lalu bahwa pemerintah di Caracas akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak yang dikenai sanksi Barat kepada Amerika Serikat.
Pernyataan ini memicu persaingan di antara perusahaan minyak untuk mendapatkan kapal tanker dan mempersiapkan operasi pengiriman minyak mentah dengan aman, menurut empat sumber yang mengetahui operasi tersebut. Dalam pertemuan di Gedung Putih pada Jumat (9/1/2026), perusahaan komoditas multinasional Trafigura mengatakan kapal pertamanya akan mulai memuat minyak pada pekan depan.
Di luar Iran dan Venezuela, investor juga mencermati risiko gangguan pasokan dari Rusia setelah serangan Ukraina menargetkan fasilitas energi negara tersebut, serta potensi sanksi Amerika Serikat yang lebih keras terhadap sektor energi Moskow. Di Azerbaijan, ekspor minyak turun menjadi 23,1 juta ton pada 2025 dari 24,4 juta ton pada 2024, menurut data kementerian energi yang dirilis pada Senin.
Rusia dan Azerbaijan merupakan anggota OPEC+, aliansi yang mencakup Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen sekutu. Di Norwegia, pemerintah mengatakan pada Senin akan menyampaikan dokumen kebijakan kepada parlemen tahun depan mengenai masa depan industri minyak dan gas, termasuk akses perusahaan ke lahan eksplorasi.
Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Stoere menegaskan pentingnya sektor tersebut bagi perekonomian negara. “Industri minyak dan gas sangat penting bagi Norwegia, dan harus dikembangkan, bukan dihentikan secara bertahap,” kata Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Stoere dalam pidatonya.
Dari sisi prospek harga, Goldman Sachs menyebutkan dalam sebuah catatan bahwa harga minyak kemungkinan akan turun tahun ini seiring tersedianya pasokan baru yang menciptakan surplus pasar. Namun, bank tersebut menilai risiko geopolitik yang terkait dengan Rusia, Venezuela, dan Iran akan terus mendorong volatilitas di pasar energi global.
Baca Juga
Trump Sebut Venezuela Akan Serahkan Minyak hingga 50 Juta Barel ke AS
Di Amerika Serikat, pemerintahan Trump memperbarui serangannya terhadap Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, sehingga menambah kekhawatiran pasar terhadap independensi lembaga tersebut. Pemerintahan itu mengancam akan mendakwa Ketua Fed Jerome Powell atas kesaksiannya di Kongres mengenai proyek renovasi, yang disebutnya sebagai “dalih” untuk mendapatkan lebih banyak pengaruh atas suku bunga yang sejak Trump menjabat setahun lalu telah didesak untuk dipangkas tajam.
Penurunan suku bunga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak dengan menurunkan biaya bagi konsumen, yang secara politis populer. Namun, kebijakan tersebut juga dapat menyulitkan bank sentral dalam merespons potensi kenaikan inflasi di masa depan. Bank sentral secara umum menaikkan dan menurunkan suku bunga untuk menjaga inflasi tetap terkendali, sehingga dinamika kebijakan moneter ini menjadi faktor tambahan yang terus diperhitungkan pelaku pasar minyak.

