Kapasitas Pembangkit Listrik Sentuh 107 GW, PLTU Batu Bara Masih Jadi Andalan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional hingga Oktober 2025 mencapai 107 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, PLTU batu bara masih mendominasi dan menjadi andalan.
Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno menyebutkan, porsi pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) dari 107 GW tersebut hanya 14,4%. Untuk itu, pemerintah akan berupaya melakukan percepatan.
Baca Juga
Pemerintah Tegaskan Pembangkit Nuklir Jadi Opsi Strategis Menuju 'Net Zero Emission'
“Dari total angka tersebut, tenaga air masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi lebih 7%. Disusul biomasa 3%, panas bumi 2,6%, surya 1,3%, dan bayu 0,1%, serta pembangkit listrik tenaga EBT lainnya yang jumlanya saya rasa masih relatif kecil,” kata Tri Winarno dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR, Kamis (13/11/2025).
Berdasarkan data tersebut, Tri Winarno memandang Indonesia sebetulnya memiliki sumber daya EBT yang besar dan diversifikasi. Namun, masih memerlukan percepatan untuk dapat berdiri sejajar dengan negara-negara maju yang telah mengembangkan EBT dalam rangka menuju transisi energi.
“Selain itu, struktur dalam sistem pembangkit kita masih menunjukkan ketergantungan pada energi fosil, khususnya batu bara, yang hingga kini masih menjadi andalan baseload pembangkit beban dasar yang beroperasi 24 jam untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik nasional,” ucapnya.
Meski pemerintah tengah mendorong transisi energi untuk mewujudkan net zero emission (NZE) 2060 atau lebih cepat, Tri menilai bahwa Indonesia tidak bisa langsung meninggalkan pembangkit listrik batu bara. Sebab, kebutuhan listrik domestik sangat tinggi dan EBT belum bisa menopang semuanya.
“Sistem ketenagalistrikan kita tidak bisa serta-merta meninggalkan PLTU, tetapi perannya untuk menjaga keandalan ini cukup signifikan sehingga masih memerlukan sekali PLTU ini. Kita tidak bisa menutup juga bahwa tuntutan dekarbonisasi ini semakin menguat baik dari sisi kebijakan nasional maupun dinamika ekonomi global,” kata Tri Winarno.
Baca Juga
Tutup PLTU Batu Bara Terakhirnya, Irlandia Andalkan Energi Angin yang Sumbang 35% Listrik Nasional
Dalam upaya transisi energi ini, dia memandang pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) juga menjadi komponen penting dalam struktur pasokan listrik nasional., terutama di wilayah perkotaan dan pusat ekonomi.
“Karakternya yang lebih fleksibel membuat PLTG mampu mengikuti perubahan beban, berperan sebagai load follower, sekaligus picker ketika kebutuhan listrik melonjak secara tiba-tiba. Fleksibilitas inilah yang menjadi semakin penting bagi penetrasi EBT variable, seperti surya dan bayu yang terus meningkat,” jelasnya.

