Intip Perincian Biaya Pembangunan Feeder LRT Harjamukti-Mekarsari
JAKARTA, investortrust.id — Proyek pembangunan feeder kereta gantung yang akan menghubungkan LRT Harjamukti menuju kawasan wisata Mekarsari membutuhkan investasi yang cukup besar. Berdasarkan paparan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), nilai investasi proyek tersebut mencapai sekitar US$ 10,4 juta per kilometer (km) atau setara Rp 173,9 miliar per km (asumsi kurs Rp 16.726 per dolar AS).
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenhub, Antoni Arif Priadi menjelaskan, proyek ini sepenuhnya akan digarap oleh pihak swasta tanpa menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
“Ke depan ada juga yang full swasta (tanpa APBN), kita ingin menyambungkan kota wisata/Mekarsari – LRT Harjamukti. Nah, itu kita hubungkan dengan feeder kereta gantung,” jelas Antoni dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kadin Indonesia di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (13/11/2025).
Baca Juga
Tanpa APBN, Proyek 'Feeder' LRT Harjamukti-Mekarsari Dimulai
Antoni juga mengungkapkan, penggunaan moda kereta gantung dipilih karena keterbatasan lahan di kawasan perkotaan.
“Masalah tanah itu luar biasa kalau di Jakarta. Enggak jadi-jadi (pembangunannya). Akhirnya swasta diminta silakan kalau berminat (bangun proyek, red),” ungkapnya.
Proyek yang akan menggunakan teknologi perusahaan Unitsky String Transport asal Belarusia itu mencakup sejumlah komponen investasi. Untuk prasarana jalur, dibutuhkan biaya sekitar US$ 7,4 juta per kilometer. Sementara pembangunan stasiun, depo, dan area pemeliharaan menelan dana sebesar US$ 26,5 juta.
Sistem kendali otomatis dan lisensi diperkirakan memerlukan biaya US$ 12,4 juta. Untuk sarana transportasi, disiapkan 41 unit kereta dengan nilai investasi masing-masing US$ 630.000 per unit.
Tahap penyusunan feasibility study (FS) proyek Suspended String Light Rail Transport (SSLRT) Unitsky resmi dimulai. Proyek ini dirancang sebagai feeder penghubung antara Stasiun LRT Harjamukti dan kawasan Mekarsari, Cileungsi, Kabupaten Bogor dengan pendanaan penuh dari swasta tanpa APBN.
Hal ini menyusul kegiatan kick off meeting dan penandatanganan surat komitmen pelaksanaan FS yang digelar di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (9/10/2025).
Perhelatan ini diinisiasi oleh PT Minsky Cakrawala Nusa (MCN) sebagai pemrakarsa proyek, bekerja sama dengan Malcon Group sebagai mitra project management consultant (PMC) dan Unitsky Nusantara Technologies sebagai penyedia teknologi.
"Dengan terlaksananya kegiatan ini, maka dimulailah tahap resmi penyusunan feasibility study kereta feeder LRT Harjamukti yang diharapkan menjadi tonggak penting bagi pengembangan sistem transportasi massal modern, inovatif, dan berkelanjutan di wilayah Jabodetabek," tulis akun instagram @unitsky_nusantara beberapa waktu lalu.
Baca Juga
Pemerintah Bakal Bangun Skytrain Sentul-Harjamukti dan Lebak Bulus-Serpong
Pada tahap perencanaan, trase feeder tersebut diketahui kurang lebih 11,5 km yang akan menghubungkan kawasan Mekarsari, Cileungsi ke simpul transportasi utama di Stasiun LRT Harjamukti. Kajian ini mencakup proyeksi permintaan penumpang, analisis teknis, serta skema investasi yang sepenuhnya didanai oleh pihak swasta.
Ketiga pihak juga menandatangani surat komitmen bersama yang diserahkan kepada Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Dokumen tersebut menegaskan kesepakatan untuk menuntaskan FS dalam enam bulan ke depan sebagai dasar implementasi proyek SSLRT.

