Prabowo Ingin Bangun PLTS 100 GW, ESDM Ungkap 3 Jurus Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW), dengan rincian 80 GW PLTS tersebar dan 20 GW PLTS terpusat untuk mencapai target net zero emission (NZE) 2060 atau lebih cepat.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah mengimplementasikan tiga program utama PLTS, yaitu PLTS Atap, PLTS Skala Besar, dan PLTS Terapung.
Selain itu, PLTS juga didorong untuk mendukung kegiatan produktif, seperti irigasi pertanian, pariwisata, perikanan, layanan kesehatan (puskesmas), dan sekolah-sekolah.
"Untuk mendukung implementasi PLTS di Indonesia, diperlukan ketersediaan industri rantai pasok (supply chain) surya, ketersediaan Engineering, Procurement, Construction (EPC) surya di seluruh daerah, serta peningkatan kapasitas SDM, khususnya di wilayah terpencil. Bonus demografi Indonesia perlu dimanfaatkan untuk memajukan energi surya nasional," kata Eniya dalam acara Indonesia Solar Summit 2025 di Jakarta, Kamis (11/9/2025).
Lebih lanjut Eniya mengungkapkan pentingnya penambahan permintaan PLTS. Potensi energi surya Indonesia sendiri diperkirakan mencapai hampir 3.200 GW, sebuah peluang besar untuk mendorong industri dalam negeri sekaligus pertumbuhan ekonomi.
“Potensi energi surya ini bisa menjadi motor transisi energi sekaligus mendongkrak lebih cepat pertumbuhan ekonomi hingga 8%,” ujar dia.
Baca Juga
Tren Baru Energi Surya, PLTS Atap untuk Industri Mulai Saingi Proyek Skala Besar
Sementara itu, Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai energi surya merupakan pintu masuk strategis bagi pengembangan hidrogen dan ammonia hijau. Kajian IESR mengindikasikan Indonesia memiliki potensi proyek PLTS di atas tanah yang layak ekonomi sebesar 165,9 GW di 290 lokasi dan PLTS terapung di badan air sebesar 38,13 GW tersebar di 226 lokasi.
CEO IESR Fabby Tumiwa menilai, komitmen Presiden Prabowo untuk membangun 100 GW PLTS merupakan gagasan revolusioner untuk menghadirkan keadilan energi. Namun untuk mewujudkannya maka perlu mengadopsi pendekatan yang berpusat pada komunitas.
“Pertama, membuat perencanaan yang rinci, termasuk menetapkan standar dan kualitas sistem yang memenuhi syarat pembiayaan (bankable), menciptakan permintaan dan membangun rantai pasok yang kuat dan menyeluruh,” jelas Fabby.
Selanjutnya, menurutnya penting juga untuk melibatkan dan memberdayakan masyarakat dan tenaga lokal sehingga dapat memastikan pengoperasian dan keberlangsungan infrastruktur PLTS. Ketiga, melakukan inovasi dan pengembangan model PLTS skala kecil yang terjangkau dan sesuai dengan aktivitas ekonomi di perdesaan.
Baca Juga
Energi Surya Jadi Primadona Baru, Indonesia "Gaspol" 100 GW PLTS

