Energi Surya Jadi Primadona Baru, Indonesia "Gaspol" 100 GW PLTS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Institute for Essential Services Reform (IESR) menyebut Pemerintah Indonesia sudah mulai menempatkan energi surya sebagai strategi penting dalam penurunan emisi sekaligus pemenuhan kebutuhan energi di tingkat nasional, daerah, hingga industri.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PT PLN (Persero) menargetkan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 17,1 gigawatt (GW). Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto juga meluncurkan program 100 GW PLTS yang akan dikembangkan sehingga tersebar di desa-desa.
Manajer Program Akses Energi Berkelanjutan IESR Marlistya Citraningrum menilai, langkah ini perlu mendapat dukungan luas dan dijalankan secara adil dengan mengatasi tantangan regulasi, pembiayaan, tata kelola berkelanjutan, serta penguatan rantai pasok domestik.
Baca Juga
Indika Energy (INDY) Operasikan PLTS 360 kW yang Bisa Hemat 350.000 Liter BBM Per Tahun
“Energi surya adalah kunci transisi energi bersih. Dengan potensi lebih 7 terawatt (TW), Indonesia punya peluang besar untuk melompat ke masa depan yang lebih hijau. Momentum ini jangan hanya dimanfaatkan industri besar, PLTS harus hadir juga di sekolah, pesantren, UMKM, hingga rumah tangga,” kata Marlistya dalam media briefing Indonesia Solar Summit, Selasa (2/9/2025).
IESR menekankan bahwa momentum ini perlu diperkuat agar PLTS tidak berhenti pada proyek percontohan, melainkan berkembang menjadi arus utama dalam sistem energi nasional.
Untuk memperkuat komitmen dan mempercepat integrasi energi surya, IESR bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menyelenggarakan Indonesia Solar Summit (ISS) 2025. Forum ini menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk memastikan pemanfaatan energi hijau secara masif dan inklusif.
“ISS 2025 mencerminkan semangat gotong-royong dalam mempercepat energi surya sebagai pilar utama transisi energi yang berkelanjutan dan kompetitif,” ujar Marlistya.
Menurut Marlistya, pemanfaatan PLTS di Indonesia berkembang dengan pola berbeda pada setiap skala, mulai elektrifikasi desa, kebutuhan industri, hingga pembangkit utilitas. Namun, tantangan yang dihadapi relatif serupa, yakni regulasi yang kerap berubah, keterbatasan skema pembiayaan, dan rantai pasok domestik yang masih lemah.
Baca Juga
PLTS Bakal Jadi Penyumbang Terbesar Bauran Energi Nasional di 2060
Meski begitu, dalam 5 tahun terakhir, Indonesia mulai menunjukkan momentum positif. Sejak terbitnya regulasi khusus PLTS atap pada 2018, adopsi meningkat pesat terutama di sektor industri dengan kapasitas hingga puluhan MW per lokasi.
Program PLTS atap di tingkat provinsi, seperti di Jawa Tengah dan Jakarta, juga memperlihatkan tren menjanjikan. Ratusan rumah tangga, UMKM, hingga sekolah dan pesantren telah memasang PLTS atap. Sementara di sektor industri, perusahaan besar memanfaatkan untuk menekan biaya listrik sekaligus memenuhi tuntutan pasar ekspor yang semakin ketat terhadap penggunaan energi bersih.

