Tren Baru Energi Surya, PLTS Atap untuk Industri Mulai Saingi Proyek Skala Besar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Institute for Essential Services Reform (IESR) mencatat tren baru dalam pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia. Jika sebelumnya kapasitas PLTS nasional didominasi proyek skala besar, kini sektor industri melalui PLTS terdistribusi, seperti PLTS atap mulai memberi kontribusi signifikan.
Analis Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan IESR Alvin Putra Sisdwinugraha menyebutkan, dari total 916 megawatt (MW) kapasitas PLTS terpasang di Indonesia hingga akhir 2024, sebagian besar berasal dari PLTS skala besar. Namun, sepanjang 2024, sektor industri mencatatkan tambahan kapasitas lebih dari 100 MW dari PLTS atap.
Baca Juga
“PLTS captive atau PLTS yang digunakan langsung untuk sektor industri menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing industri Indonesia di pasar global. Sejak 2017, wilayah usaha (wilus) meningkat tiga kali lipat, ini menjadi peluang besar bagi pemasangan PLTS captive,” ujar Alvin dalam media briefing Indonesia Solar Summit, Selasa (2/9/2025).
Maka dari itu, menurutnya, pemerintah perlu meningkatkan transparansi dalam perencanaan sistem, data, dan perizinan, misalnya melalui aplikasi. Hal ini dinilai penting untuk mendorong transisi energi.
Lebih lanjut, Alvin menyoroti peluang proyek ekspor listrik energi terbarukan sebesar 3,4 GW ke Singapura. Menurutnya, proyek ini dapat memperkuat rantai pasok dalam negeri dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 60%. Namun, diperlukan kejelasan regulasi untuk menegaskan peran PLN dalam proyek tersebut.
Dari sisi manufaktur, kapasitas produksi modul surya di Indonesia saat ini mencapai 11,7 GWp per tahun, dengan sejumlah produsen tier-1 telah berinvestasi di dalam negeri. Tantangannya, harga modul lokal masih 30-40% lebih mahal dibandingkan produk impor.
“Untuk mendorong investasi rantai pasok, penting memastikan adanya permintaan dalam negeri yang konsisten, terutama lewat proyek skala utilitas. Selain itu, aturan TKDN perlu disusun sedemikian rupa agar tetap menarik investasi sambil melindungi industri lokal,” jelas Alvin.
Baca Juga
Energi Surya Jadi Primadona Baru, Indonesia "Gaspol" 100 GW PLTS
IESR menegaskan bahwa keberhasilan proyek PLTS bergantung pada rantai pasok yang kuat dan efisien. Dukungan sektor manufaktur domestik yang mampu menghasilkan panel surya berkualitas tinggi akan menentukan keberlanjutan proyek energi terbarukan, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun pasar internasional.
“Dengan permintaan konsisten, regulasi jelas, dan insentif tepat sasaran, Indonesia bisa memperkuat posisi energi surya sebagai tulang punggung transisi energi,” tutup Alvin.

