Ada Faktor Bank Sentral Negara BRICS di Balik Melonjaknya Harga Emas
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat pasar keuangan Ariston Tjandra tidak memungkiri bahwa ada faktor bank sentral dari negara-negara yang tergabung BRICS di tengah melonjaknya harga emas. Pasalnya, BRICS yang diinisiasi Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan ini memborong emas untuk mengurangi dominasi dolar Amerika Serikat (AS).
Harga emas naik ke rekor tertinggi US$ 3.314,1 karena meluasnya perang dagang yang ditabuh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Situasi tersebut meningkatkan permintaan aset safe haven ini, sehingga menembus level US$ 3.300.
Harga emas batangan di atas US$ 3.314,1 per ons, naik 73,7 atau 2,27% untuk pertama kalinya pada Rabu (16/4/2025). Ini melampaui puncak tertinggi sepanjang masa sebelumnya yang terjadi pada Senin (14/4/2025).
Ariston membeberkan sejumlah faktor yang menyebabkan kenaikan harga emas ini, antara lain diversifikasi cadangan devisa sejumlah negara dari dolar ke emas.
Baca Juga
Harga Emas Naik Imbas Pelemahan Dolar dan Ketidakpastian Tarif Trump
“Diversifikasi cadangan devisa yang dilakukan beberapa negara, termasuk BRICS, untuk mengurangi dominasi dolar AS dengan membeli emas dalam jumlah besar juga turut mendorong kenaikan harga emas ini,” kata Ariston saat dihubungi Investortrust, Rabu (16/4/2025).
Pria yang menjabat sebagai presiden direktur PT Doo Financial Futures itu menerangkan, kekhawatiran kebijakan tarif AS yang bisa mendorong pelambatan ekonomi, menyebabkan pasar mengalihkan dananya ke aset aman, seperti emas.
Ariston menjelaskan, kenaikan harga emas juga dipicu persepsi pasar bahwa AS akan terimbas dampak negatif kenaikan tarif impor sehingga perekonomian Negeri Paman Sam itu melambat. Dampaknya, bisa memicu bank sentral AS (The Fed) memangkas suku bunga acuannya.
Selain itu, menurut Ariston, harga emas juga mengalami kenaikan karena kemelut geopolitik yang menyebabkan perang bersenjata di beberapa tempat, seperti di Timur Tengah dan Rusia-Ukraina.
Emas Antam bisa Rp 2,3 Juta
Ariston memperkirakan, dalam jangka pendek maupun jangka panjang, harga emas masih dalam tren naik dikarenakan sejumlah sentimen global. Bahkan emas Antam diprediksi bisa menembus Rp 2,3 juta per gram dari saat ini Rp 1,904 juta per gram.
Baca Juga
Wajib Tahu! Ini 4 Cara Simpan Emas yang Paling Aman, Salah Satunya di Safe Deposit Box
“Emas Antam mungkin bisa ke Rp 2,3 juta per gram, emas global di pasar spot di US$ 3.500 per troy ons,” ucap Ariston.
Di sisi lain, dolar AS yang berada di dekat level terendah 3 tahun terhadap mata uang lainnya, turut menopang emas.
Emas, yang digunakan sebagai investasi aman di tengah ketidakpastian politik dan keuangan, naik lebih 23% pada 2025 dan telah mencetak beberapa rekor tertinggi.
Baca Juga
Goldman Sachs menjadi institusi yang paling optimistis di antara bank-bank besar dunia terhadap emas. Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga emas akhir 2025 menjadi US$ 3.700 karena permintaan bank sentral yang kuat dan meningkatnya risiko resesi.
Sebelumnya mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta (BEJ) -saat ini BEI- Hasan Zein Mahmud mengungkapkan, faktor utama kenaikan harga emas adalah kehendak dunia untuk melakukan dedolarisasi. Salah satunya dilakukan oleh negara-negara BRICS.
BRICS yang berdiri pada Juni 2009 memiliki visi utama mencari perimbangan sistem keuangan global. "Sejak itu, selama 16 tahun, bank sentral melakukan pembelian emas besar-besaran," kata Hasan.
Bahkan selama 3 tahun terakhir pada 2022-2024, bank sentral telah melakukan pembelian sebesar 3.200 ton. Adapun pembeli terbesar, di antara bank sentral China, bank sentral Rusia, dan bank sentral India. "Tiga dari empat negara pencetus BRICS," kata dia.

