Nasib Kontrak Impor LPG dengan Negara Selain AS Menjadi Urusan Badan Usaha
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberi tanggapan soal nasib kontrak impor liquified petroleum gas (LPG) dengan negara lain di luar AS. Kontrak tersebut pada akhirnya akan diserahkan kepada badan usaha (BU) yang bersangkutan.
“Kalau urusan komersialnya nanti kan ada di badan usaha. Kita selalu menghormati, baik sebagai badan usaha maupun sebagai negara, kita akan menghormati masalah-masalah seperti itu,” kata Dadan saat ditemui di kantor BPH Migas, Jakarta, Jumat (11/4/2025).
Sebagaimana diketahui, pemerintah berencana meningkatkan porsi impor LPG dari Amerika Serikat (AS) sebagai respons penerapan tarif timbal balik (reciprocal tariff) sebesar 32% terhadap Indonesia. Namun, peningkatan jumlah impor LPG dari AS ini tidak bakal menambah volume impor.
Pemerintah berencana untuk merealokasi pembelian. Dengan kata lain, mereka bakal mengurangi porsi impor LPG dari negara lain agar bisa menambah volume impor LPG dari AS tanpa harus mengganggu APBN.
“Kita sedang menjajaki dan nanti juga ada perjanjian pemerintah dengan Amerika. Ada perjanjian kontrak antara badan usaha untuk yang LPG-nya. Tidak nambah yang kuota untuk ke masyarakatnya,” ucap dia.
Baca Juga
RI Perbesar Impor LPG dan Minyak dari AS, Bahlil Ungkap Nasib Negara Lain
Sebelum ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memaparkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kondisi surplus neraca perdagangan Indonesia terhadap Amerika kurang lebih sekitar US$ 14 miliar sampai US$ 15 miliar.
Maka dari itu, kata Bahlil, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan untuk melihat potensi komoditas apa saja yang bisa dibeli dari Amerika, termasuk salah satunya LPG. Hal ini dimaksudkan untuk menyeimbangkan neraca perdagangan tersebut.
“Khususnya di sektor ESDM, memang 54% impor kita LPG itu dari Amerika. Dan kita tahu bahwa impor minyak kita kan cukup besar. Nah, ini yang kami lagi meng-exercise untuk kemudian dijadikan sebagai salah satu komoditas yang bisa kita beli dari Amerika,” kata Bahlil saat ditemui di Sekretariat Kementerian ESDM, Rabu (9/4/2025).

