RI Perbesar Impor LPG dan Minyak dari AS, Bahlil Ungkap Nasib Negara Lain
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia tidak memungkiri bahwa pemerintah bakal menggenjot impor LPG dan minyak dari Amerika Serikat (AS). Hal ini dilakukan sebagai respons kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menerapkan tarif timbal balik (reciprocal tariff) sebesar 32% terhadap Indonesia.
Bahlil memaparkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus neraca perdagangan Indonesia terhadap Amerika kurang lebih sekitar US$ 14 miliar sampai US$ 15 miliar.
Baca Juga
Prabowo: Kita Bukan Negara Miskin, Bisa Beli Produk Amerika US$ 17 Miliar
Sementara Kantor Perwakilan Dagang AS atau United States Trade Representative (USTR) mengeklaim perdagangan Amerika dengan Indonesia mengalami defisit hingga US$ 17,9 miliar pada 2024 naik 5,4% atau US$ 923 juta dari 2023.
Untuk itu, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan melihat potensi komoditas yang bisa dibeli dari Amerika.
“Khususnya di sektor ESDM, memang 54% impor kita LPG itu dari Amerika. Kita tahu bahwa impor minyak kita kan cukup besar. Nah, ini yang kami lagi meng-exercise untuk kemudian dijadikan sebagai salah satu komoditas yang bisa kita beli dari Amerika,” kata Bahlil saat ditemui di Sekretariat Kementerian ESDM, Rabu (9/4/2025).
Dia mengungkapkan, untuk impor minyak, selama ini Indonesia membeli dari sejumlah negara, seperti Singapura, negara-negara Timur Tengah, Afrika, hingga Amerika Latin. Sedangkan impor minyak dari AS hanya 4%.
Baca Juga
Jelang Penerapan Tarif Trump, Apple Kirim Stok iPhone Besar-Besaran ke AS
Maka dari itu, saat ini kata Bahlil, pemerintah sedang mengkaji menambah porsi impor minyak dari Negeri Paman Sam. Namun, bukan berarti impor minyak dari negara-negara lain akan dihentikan sepenuhnya. “Tidak distop. Volumenya mungkin dikurangi. Masih dalam exercise, kita lagi menghitung,” ujar Bahlil.
Dijelaskan Bahlil, kajian ini, di antaranya terkait keekonomian karena yang terpenting dalam bisnis adalah produk yang diterima di Indonesia harus dengan harga kompetitif.
“Contohnya LPG belinya dari Amerika. Logikanya kan harusnya lebih mahal karena transportasinya, kan? Namun, buktinya harga LPG dari Amerika sama dengan dari Middle East,” sebut mantan Menteri Investasi itu.
Dia menambahkan, sampai saat ini, komoditas energi yang sedang dihitung untuk diimpor dari Amerkan hanya LPG dan minyak. Sementara komoditas lainnya di sektor energi belum dihitung karena tidak ada kebutuhan.

