Investasi Energi Bersih Butuh Dana Fantastis, Kadin Usul Tax Holiday 15 Tahun
JAKARTA, investortrust.id - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap, agar pemerintah dan para stakeholder bisa memberikan terobosan untuk menarik minat investor di sektor energi baru terbarukan (EBT). Salah satunya memberikan sweetener atau insentif dari sisi kebijakan.
“Itu kan bukan berupa cash saja, tetapi misalnya kebijakan fiskal. Tax holiday-nya kita usulkan nanti ke Menteri Investasi jangan tanggung-tanggung,” sebut Wakil Ketua Umum (WKU) Koordinator Bidang Investasi, Hilirisasi, dan Lingkungan Hidup Kadin Indonesia Bobby Gafur Umar dalam acara "Indonesia Green Energy Investment Dialogue 2025" di Jakarta, Kamis (27/2/2025).
Baca Juga
Investasi di Indonesia, Apple Tak Bangun Pabrik Secara Mandiri, Mengapa?
Menurut dia, bukan hal buruk jika pemerintah memberikan tax holiday hingga 15 tahun. Pasalnya, pendapatan negara bisa diambil dari ekonomi yang terbangun imbas masuknya investasi.
“Ini pionir industri. Kasih 15 tahun tax holiday dan itu ada peraturannya bisa sampai 15 tahun. Jangan dikasih cuma 5 tahun. Saving tax 15 tahun itu akan menambah nilai keekonomian. Nah pendapatan negaranya kita ambil dari ekonomi yang terbangun. Itu mungkin salah satu ya,” ucap dia.
Dia mengatakan, Kadin mendukung langkah pemerintah dalam pengembangan sumber EBT. Namun, tidak dipungkiri bahwa untuk membangun sumber energi bersih tersebut membutuhkan dana investasi yang jumbo dan fantastis.
Dia mengatakan, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri untuk mewujudkan swasembada energi yang menjadi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, apalagi untuk mencapai net zero emission 2060. Keterlibatan swasta diperlukan.
Baca Juga
KEK Kendal Berhasil Tarik Investasi Rp 141 Triliun, Paling Banyak Investor dari China
“Membangun Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan investasi dari pemerintah. Jadi transisi energi ini dibutuhkan ribuan triliun," kata Bobby.
Dia memaparkan, di negara-negara lain, komposisi investasi swasta dalam sektor energi mencapai 70%-80%, baik dari investor domestik dan asing, maupun investasi dari penanaman modal aset.
“Investment energi ini butuh fund, butuh uang, dan banyak sekali sebenarnya yang ingin masuk ke Indonesia, tetapi masih ada gap antara policy dan struktur keekonomian dari investor yang belum masuk,” ungkap Bobby.

