Pemerintah Pastikan PLTU Cirebon 1 Pensiun Dini, Ini Penggantinya
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bakal mempensiundinikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Cirebon 1 dan sudah menyiapkan penggantinya.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut, pemerintah sudah menyiapkan langkah dalam rangka menyuntik mati PLTU batu bara. Ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menjalankan konsensus Paris Agreement demi terwujudnya net zero emission (NZE) 2060.
Baca Juga
Co-Firing Biomassa pada 47 PLTU PLN Hasilkan 1,67 Juta MWh Listrik Hijau
“Sebagai bentuk komitmen Indonesia, kami mempensiunkan dini 660 MW PLTU Cirebon 1. Jadi kita pensiun dinikan tujuh tahun sebelum masa pensiun. Ini sebagai komitmen kami,” kata Bahlil dalam konferensi pers "Capaian Kinerja ESDM 2024" di Jakarta, Senin (3/2/2025).
Setelah PLTU Cirebon 1 dipensiunkan, pemerintah menyiapkan empat pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) sebagai pengganti, yakni pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 346 MW, PLTS + BESS 770 MW, pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) 1.000 MW, dan PLTSa 12 MW. “Jangan sampai paksa pensiun tetapi sumber (penggantinya) enggak ada,” sebut mantan Menteri Investasi tersebut.
Kendati demikian, Bahlil menegaskan, mempensiundinikan PLTU batu bara ini mesti dilakukan bertahap, karena membutuhkan modal besar. Untuk itu, pada tahap awal, baru PLTU Cirebon 1 yang bakal disuntik mati.
Bahlil tidak menutupi bahwa saat ini anggaran untuk pensiun dini PLTU masih terbatas. Sementara itu, pemerintah tidak mau memaksakan menyuntik mati PLTU, tetapi memberatkan keuangan negara dan rakyat menggunakan APBN.
“Bila perlu kita pensiunkan semua, yang penting ada yang membiayai. Jangan maksa negara kita mempensiunkan, habis itu cuma omon-omon, uangnya tidak ada. Maksudnya, kita ambil uang dari mana? Itu maksud saya ya,” beber dia.
Baca Juga
Janji Manis Lembaga Donor Pensiunkan PLTU, Bahlil: Kalau Tak Ada Duitnya, 'Sorry' Bos
Untuk pensiun dini PLTU Cirebon 1 bisa lebih cepat karena sudah ada pihak yang membiayai, yaitu dari Asian Development Bank (ADB). Bahlil berharap lembaga keuangan lainnya bisa membantu memberikan pendanaan dengan syarat ringan.
“Mudah-mudahan ada lembaga keuangan seperti ini. Kasih kita uang, pinjam, kita pensiunkan. Yang penting jangan merugikan negara. Itu, saya mau. Catatannya, kasih uangnya tidak boleh bunga mahal, pinjaman jangka panjang, dengan harga sampai ke rakyat yang murah, dan tidak membebani terlalu besar subsidi,” ucap Bahlil.

