Proyeksi Pasokan EIA hingga Ancaman Tarif Trump Picu Pelemahan Harga Minyak
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak pada tren menurun (bearish) tertekan ke posisi US$ 79,38 per barel Rabu, (22/1/2025). Penurunan harga minyak ini dipicu dari sentimen proyeksi Badan Informasi Energi (EIA) terkait penurunan harga minyak hingga tahun depan, dan potensi melambatnya pertumbuhan ekonomi yang dipicu ancaman perang tarif baru Trump.
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) memaparkan, pertumbuhan global yang kuat dalam produksi minyak mentah serta pertumbuhan permintaan yang lebih lambat memberikan tekanan ke bawah pada harga.
“Dalam laporan proyeksi terbaru yang dirilis pada hari Selasa, EIA memperkirakan harga minyak Brent akan turun dari rata-rata US$ 81 per barel pada tahun 2024 menjadi US$ 74 per barel pada tahun 2025, dan kembali turun menjadi US$ 66 per barel pada tahun 2026,” tulis riset ICDX, Rabu (22/1/2025).
Turut membebani pergerakan harga, Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa berjanji akan mengenakan tarif baru pada UE karena memiliki surplus perdagangan yang meresahkan dengan AS. Trump juga mengatakan bahwa pemerintahannya sedang membahas bea masuk hukuman sebesar 10% atas impor China karena fentanil dikirim dari China ke AS melalui Meksiko dan Kanada.
“Sementara itu, badai musim dingin Enzo yang melanda Pantai Teluk AS pada hari Selasa berpotensi membuat sebagian besar negara bagian AS akan tetap berada dalam suhu beku ekstrem,” ulasnya.
Baca Juga
Trump Dorong Peningkatan Produksi Energi, Harga Minyak Anjlok
Selain itu, produksi minyak di North Dakota diperkirakan turun antara 130.000 dan 160.000 bph karena kondisi cuaca tersebut dan tantangan operasional terkait. Pelabuhan Freeport pada hari Selasa juga memperkirakan aktivitas kapal yang terbatas, dan Pelabuhan Houston mengatakan semua fasilitas publiknya akan tetap ditutup hingga hari Rabu.
“Sentimen positif lainnya datang dari pasukan militer Israel yang pada hari Selasa melancarkan operasi militer berskala besar dan signifikan, yang menargetkan kota Jenin di Tepi Barat dan menewaskan setidaknya 9 warga Palestina,” urai riset tersebut.
Baca Juga
Serangan baru dari Israel yang terjadi tepat dua hari setelah dimulainya gencatan senjata Gaza, berpotensi mempengaruhi kesepakatan damai yang telah tercapai.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memproyeksikan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 78 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 73 per barel.

