Penasihat Prabowo Ungkap PR Terbesar Hilirisasi Sektor Pertambangan di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Penasihat Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengungkapkan pekerjaan rumah (PR) terbesar hilirisasi sektor pertambangan di Indonesia. Menurutnya, itu tentang bagaimana menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi terhadap produk.
Bambang tidak memungkiri bahwa saat ini sudah ada upaya yang dilakukan untuk menggenjot hilirisasi pertambangan. Namun, dia memandang, tidak cukup jika hilirisasi terbatas hanya sampai smelter.
“Barangkali PR terbesar adalah bagaimana kita menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi. Karena kalau kita menjawab isu hilirisasi sampai sebatas kepada smelter, maka nilai tambah sudah tercipta. Namun, kita masih butuh hilirisasi yang lebih hilir lagi,” kata Bambang dalam acara MINDialoge, Kamis (9/1/2025).
Disampaikan oleh Bambang, saat ini kompleksitas dari industri manufaktur dalam negeri yang nantinya menentukan daya saing dari produk hilirisasi tersebut belum terangkat dengan baik.
Baca Juga
Kemenkeu Catat Perlambatan Setoran Pajak dari Industri Pengolahan dan Pertambangan
Lebih lanjut dia memaparkan, berdasarkan studi yang dikeluarkan oleh World Bank di tahun 2024 mengenai middle income trap, saat ini negara yang bisa naik kelas dari upper middle menjadi negara maju adalah negara yang harus mengandalkan kepada inovasi.
“Jadi saran saya kepada baik Pak Erick Thohir (Menteri BUMN) maupun kepada jajaran MIND ID, inilah saat terbaik untuk BUM lebih banyak mengembangkan R&D (research and development), menghasilkan inovasi untuk melahirkan produk-produk yang basisnya adalah berasal dari hasil tambang kita,” ujar Bambang.
Baca Juga
Ketua IMA dan Bos Freeport Harap Jangka Waktu Izin Pertambangan Tak Perlu Dibatasi
Bambang pun menyebut Chile bisa menjadi contoh yang baik bagi Indonesia dalam melakukan hilirisasi tembaga. Menurut dia, Indonesia masih memiliki kesempatan untuk keluar dari middle income trap ini.
“Chile negara Amerika Latin yang sudah naik kelas, sudah jadi negara yang high income, karena mereka salah satunya punya tembaga yang cukup besar dan saat ini ekonominya selain ekonomi yang diluar tambang, juga didukung oleh pengolahan dari tembaga tersebut,” sebut Bambang.

