Kementerian ESDM Ungkap Strategi Penurunan Gas Rumah Kaca pada Sektor Pertambangan
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan strategi penurunan gas rumah kaca (GRK), utamanya di sektor pertambangan, bagian dari upaya pemerintah untuk mewujudkan net zero emission (NZE) 2060.
Koordinator Penyiapan Program Minerba Kementerian ESDM Nelyanti Siregar mengatakan, sumber emisi di sektor hulu dan hilir pertambangan masih besar, khususnya terkait penggunaan batu bara sebagai sumber energi utama.
Baca Juga
Program Hilirisasi Batu Bara 5 Perusahaan Ini Disetujui Pemerintah, Siapa Saja?
“Sumber emisi di sektor hulu pertambangan itu adalah produksi batu bara dengan penggunaan bahan bakar fosil, baik untuk peralatan penambangan maupun untuk kebutuhan energi listrik (PLTD dan PLTU),” kata Nelyanti acara “Investortrust Power Talk” bertempat di The Habibie & Ainun Library-Wisma Habiebe & Ainun, Jakarta Kamis (13/6/2024).
Faktor lainnya yang menjadi sumber emisi di hulu adalah pembukaan lahan tambang yang menyebabkan penurunan emisi. Sedangkan sumber emisi di sektor hilir adalah penggunaan bahan bakar fosil untuk kebutuhan energi listrik dan juga sebagai bahan bakar industri.
Proyeksi Batu Bara: Produksi, Ekspor & Konsumsi Domestik (BAU)
Oleh karean itu, pemerintah sudah menyiapkan langkah strategis untuk mengurangi emisi GRK ini. Nelyanti menyebut, untuk sektor hulu langkah yang akan diambil adalah dengan menurunkan produksi batu bara mengikuti permintaan kebutuhan batu bara untuk PLTU.
“Kemudian pemakaian BBN seperti B20 dan B30 untuk mengurangi penggunaan minyak/fosil. Lalu pengalihan dari penggunaan PLTD dan PLTU menjadi pembangkit EBT untuk memenuhi kebutuhan listrik. Serta melakukan reklamasi lahan bekas tambang,” papar dia.
Baca Juga
IMA: Indonesia Masih Bisa Ekspor Batu Bara Sampai 150 Tahun Lebih
Sementara itu, strategi pengurangan emisi di sektor hilir disampaikan oleh Nelyanti adalah dengan cofiring biomassa pada PLTU, kemudian pengalihan dari penggunaan PLTD dan PLTU menjadi pembangkit EBT untuk memenuhi kebutuhan energi listrik.
“Selain itu akan dilakukan juga penerapan teknologi CCS/CCUS pada PLTU (umum dan industri) dan fasilitas hilirisasi batu bara. Serta yang terakhir adalah standardisasi setiap aktivitas penghasil emisi,” terang Nelyanti.
Kendati demikian, Nelyanti tidak memungkiri bahwa ada sejumlah tantangan yang dihadapi dalam upaya penurunan emisi ini. Di sektor hulu yang menjadi tantangannya adalah demand batu bara yang menurun akan berdampak pada beberapa perusahaan batu bara berhenti beroperasi.
Baca Juga
Pemerintah Targetkan Batas Produksi Batu Bara RI Hanya 325 Juta Ton Tahun 2055
“Kemudian tantangan lainnya adalah ketersediaan B20 dan B30 belum sesuai dengan kebutuhan pertambangan. Lalu masih besarnya biaya investasi dan masih rendahnya reabilitas pembangkit EBT. Serta reklamasi lebih kecil dibanding dengan bukaan lahan,” ujar Nelyanti.
Adapun yang menjadi tantangan di sektor hilir adalah biaya investasi teknologi CCS/CCUS masih cukup besar sehingga dinilai belum ekonomis untuk saat ini. Lalu ketersediaan suplai biomassa, dan yang terakhir kesiapan dalam penerapan standardisasi.

