Apindo Bikin Survei Mengejutkan, Ini Hasil Lengkapnya
JAKARTA, investortrust.id – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) membuat survei dengan hasil yang cukup mengejutkan. Berdasarkan hasil survei terhadap dunia usaha itu, 72% pengusaha mengalami perlambatan penjualan dan 44,58% tidak merencanakan ekspansi dalam lima tahun ke depan.
“Selain itu, 61,2% pengusaha menganggap akses pinjaman untuk keperluan bisnis tidak mudah dan 43,05% pengusaha menilai suku bunga kredit perbankan tinggi,” ujar Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani dalam acara “Apindo Dinner with Chief Editor: Mengawal Transformasi Ekonomi Inklusif, Berkelanjutan dan Berdaya Saing di Era Pemerintahan Baru” di Jakarta, Selasa (05/11/2024) malam.
Shinta menegaskan, survei bertajuk Survei Roadmap Perekonomian Apindo 2024-2029 itu sangat kredibel karena melibatkan banyak responden dengan metode yang ketat. “Ada 2.000 perusahaan yang disurvei. Surveinya pun lebih lama dan lengkap. Untuk mengisinya saja butuh waktu dua jam, bukan quick survey,” tegas Shinta.
Baca Juga
Menurut Shinta Kamdani, survei itu juga mengukur proyeksi pertumbuhan bisnis lima tahun mendatang. Pengusaha yang menyatakan usahanya tidak tumbuh atau turun dalam lima tahun ke depan mencapai 15,45%, sedangkan yang memproyeksikan tumbuh di bawah 3% mencapai 22,93%.
“Nah, responden yang memproyeksikan usahanya tumbuh di atas 3% mencapai 61,62%,” tutur dia.
Shina menambahkan, sebagian besar dunia usaha tidak berencana melakukan ekspansi karena modal usaha dan pasar terbatas. Selain itu, persaingan bisnis amat tinggi. “Intinya, ekspansi dunia usaha bergantung pada stabilitas ekonomi makro,” tandas dia.
Shinta Kamdani mengingatkan pemerintah bahwa kondisi perekonomian nasional makin berat. “Kondisi perekonomian Indonesia semakin menantang, makin berat. Berbagai indikator di dalam negeri menunjukkan kondisi yang tidak baik. Kondisi ekonomi global juga tidak mendukung perekekonomian kita,” papar Shinta.
Shinta mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2024 yang di bawah ekspektasi adalah salah satu indikator paling nyata bahwa perekonomian nasional sedang dalam kondisi kurang menggembirakan. Produk domestik bruto (PDB) nasional pada kuartal III-2024 tumbuh 4,95% secara tahunan (year on year/yoy). “Ekspektasinya kan setidaknya tumbuh 5%,” ucap dia.
Data Badan Pusat Statitik (BPS) menunjukkan, perekonomian Indonesia tumbuh 1,50% pada kuartal III-2024 terhadap kuartal sebelumnya (quarter to quarter/q to q), sedangkan terhadap kuartal III-2023 atau secara tahunan (yoy) tumbuh 4,95%. Adapun selama tahun kalender (calendar to calendar/c to c), ekonomi domestik tumbuh 5,03%. Pada kuartal II-2024, ekonomi tumbuh 3,79% (q to q) dan pada kuartal III-2023 tumbuh 4,94% (yoy).
Sektor Padat Karya Paling Terdampak
Shinta Kamdani menjelaskan, perlambatan ekonomi terjadi sejak kuartal II-2024 yang tumbuh 5,05% (yoy) dibanding pertumbuhan ekonomi kuartal I-2024 sebesar 5,11% (yoy). “Yang paling terdampak adalah sektor padat karya,” ujar dia.
Indikator pelemahan ekonomi domestik, kata Shinta, juga ditunjukkan oleh Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang kini berada di level 49,2 alias level kontraksi. “PMI Manufaktur kita bahkan sudah terkontraksi dalam empat bulan terakhir,” tutur dia.
Kontribusi industri pengolahan terhadap PDB yang semakin kecil, menurut Shinta Kamdani, juga mengindikasikan Indonesia berpotensi mengalami deindustrialisasi secara prematur. Kontribusi industri pengolahan terhadap PDB tahun lalu hanya 18,7%, padahal beberapa dekade lalu masih di atas 20%. Deindustrialisasi idealnya terjadi setelah industrialisasi terjadi di berbagai sektor, terutama di sektor pertanian.
“Selain itu, saat ini terjadi ketimpangan antarsektor sebagai penyumbang PDB, di mana 45% perekonomian kita hanya ditopang tiga sektor, yaitu pertanian, pengolahan, dan perdagangan,” ujar dia.
Kondisi ekonomi domestik yang makin menantang itu, menurut Shinta Kamdani, tidak didukung perekonomian global. “Outlook ekonomi global 2024 dalam kondisi pesimistis dengan multiple down-side risks. Forecast pertumbuhan ekonomi global stagnan di level 3,2% untuk tahun ini maupun tahun depan,” papar Shinta.
Baca Juga
Shinta mengungkapkan, ekonomi global hingga tahun depan masih bermasalah. Pemicunya antara lain konflik dan ketegangan geopolitik, disrupsi pasar pangan dan energi, fragmentasi perdagangan global, bencana perubahan iklim, serta perlambatan ekonomi negara-negara maju.
“Kondisi ekonomi global yang tidak kondusif mendatangkan konsekuensi langsung terhadap perekonomian nasional, terutama di sisi makro, investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI), dan perdagangan. “Stabilitas makro tertekan, FDI makin sulit,dan sektor perdagangan banyak terhambat,” tutur dia.
Dia menegaskan, pemerintahan Prabowo harus cermat betul merespons kondisi ini. “Apindo siap support dan memberikan masukan kepada pemerintah," tegas dia.

