Pertamina Harap Pemerintah Beri Insentif untuk Akselerasi Jargas
JAKARTA, investortrust.id - Pertamina Gas Negara (PGN) berharap agar pemerintah bisa memberikan dukungan berupa insentif untuk mengakselerasi pembangunan dan penerapan program jaringan distribusi gas rumah tangga (Jargas).
Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PT PGN Tbk, Rosa Permata Sari, menyebutkan saat ini jumlah pelanggan jargas eksisting kurang lebih berada di angka 820.000 sambungan rumah tangga (SR). Padahal dalam RPJMN 2020-2024 ditargetkan 2,5 juta SR.
Maka dari itu, untuk mengakselerasi pembangunan jargas ini, Rosa mengharapkan adanya insentif dalam berbagai sisi. Salah satunya terkait harga gas di hulu. Saat ini harga gas di hulu untuk jargas sebesar US$ 4,72 per MMBTU.
Baca Juga
Impor LPG Lebih dari 6 Juta Ton per Tahun, Pemerintah Kaji Beri Subsidi di Hulu untuk Jargas
“Lebih advance-nya lagi, kami sebenarnya sudah mengajukan ke Kementerian ESDM dan saat itu di masa Pak Arifin Tasrif sudah disampaikan ke Kementerian Keuangan besaran harganya sebesar US$ 2 per MMBTU untuk jargas,” kata Rosa dalam acara FGD bertema Gotong Royong Membangun Jargas, yang digelar Investortrust di Jakarta, Selasa (29/10/2024).
Selain itu, Rosa juga berharap agar PGN diberi kemudahan dalam membangun infrastruktur jargas ini. Sebab, salah satu kendala dalam pengembangan jargas ini adalah masih terbatasnya infrastruktur untuk mengalirkan gas ke berbagai wilayah.
“Kan kita akan bangun infrastrukturnya. Maka ada kemudahan perizinan, tidak perlu diberikan retribusi. Kemudian dengan Pemda juga didorong bersama-sama untuk keberminatan masyarakat dengan kami bisa mudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat,” ungkap dia.
Lebih lanjut, Rosa juga menyinggung soal harga jual jargas yang masih kalah saing degan LPG subsidi (gas melon 3 kg). Jika dibandingkan dengan LPG non-subsidi, jargas dinilai masih bisa bersaing. Namun, harga jargas tidak lebih murah dari LPG 3 kg, sehingga masyarakat enggan beralih ke jargas.
Baca Juga
Realisasi Jargas Masih Jauh dari Target, PGN Minta Ini dari Pemerintah
“Kondisi dengan non-subsidi sudah pasti kita kompetitif. Dengan LPG subsidi pun kalau dihitung sebenarnya per kilogram yang dinikmati oleh masyarakat, itu harganya mungkin equal. Kenapa saya bilang equal? Bayangkan hari ini masyarakat kalau beli tabung 3 kilo, berapa harga di pasar? Apa betul belinya harga Rp 17.000 atau Rp 19.000? Jawabannya kan tidak,” papar Rosa.
Rosa mengungkapkan bahwa saat ini harga jual untuk satu tabung LPG bersubsidi berada di pasaran sekitar Rp 21.000- Rp 22.000. Pemerintah sendiri telah memberikan subsidi Rp 10.100 per kilonya untuk LPG tersebut.
“Existing harga gas hari ini, harga gas rumah tangga hari ini, range-nya itu ada pada rata-rata ada Rp 6.000. Nah ini kan yang kita juga minta supaya kita bisa masif, maka kita bisa mendorong pada angka keekonomian di Rp 7.000 atau sampai dengan Rp 10.000 supaya kita bisa masif kira-kira,” ucapnya.

