Impor LPG Lebih dari 6 Juta Ton per Tahun, Pemerintah Kaji Beri Subsidi di Hulu untuk Jargas
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif mengungkapkan, saat ini pemerintah sedang mengkaji pemberian subsidi di sektor hulu untuk penggunaan jaringan gas rumah tangga (jargas).
Sebagaimana diketahui, jargas merupakan salah satu program yang dimiliki pemerintah dalam rangka mengurangi pemakaian LPG. Arifin Tasrif menyebutkan, saat ini impor LPG Indonesia sudah lebih dari 6 juta ton per tahun.
Kendati demikian, yang saat ini jadi persoalan adalah penggunaan jargas masih terbilang mahal. Maka dari itu, pemerintah sedang mengupayakan agar harga gas di hulu menjadi lebih murah sehingga masyarakat yang memanfaatkan jargas akan mendapatkan harga yang murah.
Baca Juga
Subsidi LPG Tak Tepat Sasaran Pengaruhi Minat Masyarakat Gunakan Jargas
“Saat ini kita juga lagi mengelola kebijakannya bagaimana harga gas hulu itu bisa murah, sehingga memang masyarakat penerima jargas di rumah itu juga daya belinya tidak terganggu,” kata Arifin Tasrif di kantor Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, akhir pekan lalu.
Arifin menambahkan, saat ini sedang dikaji opsi-opsi yang memungkinkan harga gas di hulu lebih murah termasuk mensubsidinya. Karena jika harga penggunaan jargas lebih murah, masyarakat bakal beralih dari LPG.
"Jadi kita sedang mengkaji opsi untuk pemerintah mensubsidi gas hulu untuk jaringan gas. Sekarang ini kan yang disubsidi LPG, nanti kalau kita pakai gas kita sendiri, hulunya yang kita subsidi supaya masyarakat penerima itu bisa dapat harga yang ada dalam jangkauan," imbuh Arifin.
Baca Juga
Sowan ke Sultan HB X, PGN Pastikan Kelancaran Pembangunan Jargas di DIY
Sebagai informasi, hingga Juli 2024, realisasi pembangunan jargas baru mencapai 993.120 sambungan rumah tangga (SR). Jumlah itu masih cukup jauh dari target pembangunan 2,5 juta SR di tahun 2024.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024, pemerintah sebetulnya menargetkan pembangunan jargas mencapai 4 juta SR. Namun, target tersebut diturunkan menjadi 2,5 juta SR hingga akhir 2024.
“Jargas saat ini mencapai 993.120 SR yang berasal dari jargas APBN sebanyak 703.308 SR dan jargas Mandiri (APGN) sebanyak 289.812 SR,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi, saat dihubungi Investortrust.

