Impor Ilegal masih Marak, Mendag Zulhas Bandingkan RI dengan Jepang dan Korea
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan mengungkapkan Indonesia sulit mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8%, apabila underground economy masih besar.
Dia membandingkan bagaimana Jepang dan Korea Selatan (Korsel) dapat menjadi negara maju karena berhasil memberantas underground economy atau tidak ada barang impor illegal masuk. Hal ini berbeda dengan Indonesia yang masih dibanjiri barang impor illegal.
Tidak ada orang yang bisa melakukan penyelundupan barang ke Jepang dan Korsel, sehingga pendapatan negara berupa pajak dapat terus meningkat yang berasal dari barang-barang impor secara legal.
Baca Juga
Mendag Zulhas Sebut Underground Economy Bisa Hambat RI Jadi Negara Maju 2045
"Coba kita kirim barang ke Jepang, jangan harap bisa terjadi secara ilegal. Maka negara tersebut menjadi maju. Kalau kita kirim ke Korea Selatan, jangan harap akan terjadi, tidak mungkin. Jadi kalau rumah kita kebobolan banyak, gimana kita bisa maju?," ucap Mendag Zulhas di Jakarta, Rabu (21/8/2024).
Jika kondisi tersebut tidak di atasi, terang Zulhas, Indonesia akan kesulitan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8% sebagaimana ditargetkan oleh pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
"Tapi kalau seperti ini, industri di negara beli bisa mati. Kita bisa tergantung kepada nanti beras impor, elektronik impor, sabun impor, gula impor, daging impor," terang Mendag Zulhas.
Baca Juga
Soroti Satgas Impor Ilegal, Indef: Apakah Bisa Beri Efek Jera ke Importir?
Sebelumnya, Mendag Zulhas mengungkapkan, underground economy atau merupakan penghasilan yang diperoleh dari kegiatan ekonomi yang tidak terekan pada otoritas pajak yang terjadi saat ini adalah sebesar 30-40%.
"Salah satu hambatannya itu adalah undergrowth economy. Pak Menteri UKM mengatakan hampir 30-40%. Pasar kita itu di pangsa pasarnya apa yang disebut dengan undergrowth economy itu, kalau ilegal negara enggak dapat pajak," ungkapnya.

