Mendag Zulhas Sebut Impor Ilegal dan Pabrik Tua Jadi Penyebab PMI Manufaktur Terkontraksi
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan atau yang akrab disapa Zulhas menyebutkan salah satu penyebab pelemahan Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia dikarenakan adanya serbuan impor ilegal yang masih kerap terjadi di industri dalam negeri.
Selain itu, Mendag Zulhas pun mengungkapkan kontraksi yang terjadi pada PMI Manufaktur juga disebabkan pabrik yang sudah tidak berkembang lagi. Sehingga menyebabkan terjadinya perpindahan pabrik ke daerah lain agar perusahaannya tetap beroperasi.
"Ya banyak hal, salah satu saja. Jadi kalau manufaktur itu macam-macam sebabnya, ada yang mesinnya tua, sudah mulai tidak kompetitif, ada juga yang pindah, yang Tangerang ini juga banyak yang pindah," ucap Zulhas saat ditemui di kawasan Kota Tangerang, Senin (23/9/2024).
Baca Juga
PMI Manufaktur Indonesia Kontraksi Lagi, Menperin Ungkap Penyebabnya
"Banyak yang pindah ke Jawa Tengah karena Jawa Tengah lebih murah, kemudian tenaga kerjanya itu orangnya Jawa Tengah kan tahu sendiri, tenang, serikat pekerjanya itu dalam satu industri punya 20.000 pegawai,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Direktorat Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Kris Sasono Ngudi Wibowo pun mengungkapkan hal senada. Oleh karenanya, ia menilai, penindakan dari satuan tugas (Satgas) impor akan berdampak ke industri manufaktur.
“Ya untuk penegakan, administrasi pasti berdampak, minimal teman-teman di pelaku usaha sudah tahu bahwa kita serius untuk memperhatikan,” ungkap Kris.
Baca Juga
PMI Manufaktur RI Anjlok, Kadin Perlu Percepat Sinkronisasi Solusi dengan Pemerintahan Baru
“Apalagi dari jalur-jalur ilegal, industri kita pasti mati. Kita mencoba melakukan penutupan, bukan cuma penutupan saja tapi pengendalian terkait barang-barang impor yang masuk,” imbuhnya.
Diketahui, pelambatan sektor industri pada Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2024 yang berada di poin 49,3 atau merosot jadi fase kontraksi. Padahal, selama 34 bulan berturut-turut sebelumnya bertahan di level ekspansi. Kondisi tersebut pun terjadi pada Agustus 2024, di mana PMI manufaktur kembali mengalami kontraksi 0,4 poin menjadi 48,9.

