Bamsoet Akui Transisi Energi Butuh Investasi Sangat Besar
JAKARTA, investortrust.id - Ketua MPR, Bambang Soesatyo yang akrab disapa Bamsoet menyebutkan, saat ini Indonesia sedang berjalan menuju transisi energi untuk mewujudkan target net zero emission (NZE) 2060 atau lebih cepat. Namun, dia tidak memungkiri transisi energi ini butuh investasi yang sangat besar.
“Transisi energi ini merupakan pekerjaan besar, yang membutuhkan investasi sangat besar, dan tidak akan tuntas hanya dalam tiga sampai lima tahun,” kata Bambang Soesatyo dalam Sidang Tahunan MPR 2024 di komplek gedung DPR/MPR, Jumat (16/8/2024).
Sebagaimana diketahui, Indonesia telah menandatangani Paris Agreement (Perjanjian Paris) dan mengesahkannya melalui UU No. 16 Tahun 2016 yang telah disahkan pada tanggal 25 Oktober 2016.
Baca Juga
Pertamina dan Siemens Energy Jalin Kolaborasi Percepat Transisi Energi
Sebagai bagian dari komitmennya, Indonesia telah menetapkan target pengurangan emisi gas rumah kaca dalam Nationally Determined Contributions (NDC).
“Di bidang energi, Indonesia telah berkomitmen secara bertahap menekan emisi gas rumah kaca dengan mengurangi porsi penggunaan energi fosil dan mulai beralih pada energi baru dan terbarukan,” ujar pria yang akrab disapa Bamsoet tersebut.
Beriringan dengan transisi energi, pemerintah Indonesia juga sedang mendorong hilirisasi industri. Sebab, Indonesia memiliki tujuan menjadi negara berpenghasilan tinggi yang setara dengan negara-negara maju pada tahun 2045.
Baca Juga
BPH Migas Tegaskan Pentingnya Optimalisasi Gas Bumi sebagai Transisi Energi
“Strategi hilirisasi industri sudah memberikan hasil positif berupa nilai investasi pada industri pengolahan mineral yang meningkat pesat. Nilai ekspor nikel juga tumbuh sangat tinggi, yang membuat Indonesia menjadi negara penghasil nikel terbesar nomor satu di dunia,” terang Bamsoet.
Diketahui, cadangan nikel di Indonesia mencapai sekitar 21 juta ton atau 24% dari total cadangan dunia. Sementara cadangan timah di Indonesia menempati peringkat kedua dunia dengan cadangan sebesar 800 ribu ton atau 23% dari cadangan dunia.
Pada tahun 2023, volume produksi nikel di Indonesia mencapai 1,8 juta metrik ton, menempati peringkat pertama di dunia dengan kontribusi sebesar 50% dari total produksi global. Adapun produksi timah Indonesia sebesar 78 ribu ton menempati peringkat kedua dunia dengan kontribusi sebesar 22% dari total produksi timah global.
Baca Juga
ESDM Ungkap Batu Bara Masih Punya Peran Mengisi Transisi Energi

