Percepat Transisi Energi, IESR Sebut RI Butuh Investasi US$ 40 Miliar per Tahun
JAKARTA, investortrust.id - Institute for Essential Services Reform (IESR) telah menganalisis bahwa untuk melakukan percepatan transisi energi di Indonesia, dibutuhkan investasi sekitar US$ 20 - US$ 40 miliar per tahunnya hingga 2050 mendatang.
Sementara itu, rata-rata investasi publik untuk energi terbarukan per tahunnya di bawah US$ 2 miliar dalam periode 2017-2023. Pada 2022, pembiayaan energi terbarukan dari swasta terpantau meningkat di angka Rp 26 triliun atau US$ 1,7 miliar.
“Pendanaan publik sangat penting untuk menarik pendanaan swasta yang masih menghadapi risiko tinggi karena transisi energi merupakan pasar baru,” kata Analis Keuangan dan Ekonomi IESR, Putra Maswan, dalam acara Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2024, Rabu (6/11/2024).
Baca Juga
PGEO Dukung Pemerintah Wujudkan Swasembada Energi, Ini Langkah Strategisnya
Selain itu, Putra menjelaskan bahwa IESR telah melakukan evaluasi terhadap Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 103/2023 sebagai dasar alokasi APBN untuk mendukung pensiun dini PLTU lebih awal.
“Hasilnya, PMK ini dinilai ‘kuat’ dalam aspek hukum, namun berada di kategori ‘sedang’ untuk tata kelola, sumber pendanaan, serta kerangka pemantauan dan evaluasi,” terang dia.
Untuk memperjelas tata kelola PMK No. 103/2023, IESR merekomendasikan empat hal. Pertama, peraturan ini harus memberikan panduan jelas terkait implikasi anggaran. Kedua, pemerintah perlu meningkatkan transparansi publik untuk Platform Transisi Energi.
“Selanjutnya yang ketiga adalah pemerintah harus memperkuat kerangka regulasi pasar. Keempat, mendukung pengembangan kapasitas kelembagaan,” papar Putra.
Baca Juga
Wamenperin Faisol Dorong Industri Pipa Lokal Perluas Pembangunan Jargas
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), saat ini realisasi bauran EBT nasional baru mencapai 13,93%. Angka tersebut masih tertinggal jauh dari target bauran EBT tahun 2025 yang sebesar 23%
Sebelum ini, Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menyebutkan, dibutuhkan investasi US$ 14 miliar untuk mewujudkan target tersebut.
“Jadi kalau US$ 14 miliar itu ada, itu sebetulnya baruan EBT kita akan meningkat. Di sini sekilas ya, baru perhitungan kasar, Kalau kita punya investasi US$ 14 miliar, dalam 1 tahun ke depan baruan EBT kita itu bisa menyentuh, hitungan kasarnya 21,2%,” ujar Eniya.

