Sumatera Lumbung Energi Hijau tetapi Sulawesi Butuh Listrik, Ini Strategi Transisi Energi ESDM
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memaparkan, Sumatera merupakan lumbung dari energi baru terbarukan (EBT). Pasalnya, Sumatera memiliki potensi EBT paling besar dibandingkan pulau-pulau lainnya di Indonesia, yaitu 1.240 gigawatt (GW). Sementara di sisi lain, Sulawesi membutuhkan listrik.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, posisi EBT kedua setelah Sumatera ditempati Pulau Jawa dengan 696,58 GW, diikuti Maluku dan Papua sebesar 518,46 GW, Kalimantan 517,53 GW, Bali & Nusa Tenggara 457,17 GW, dan Sulawesi 257,36 GW.
Menurut Eniya, tantangan saat ini adalah kebutuhan listrik di Sulawesi. Pasalnya, di wilayah tersebut terdapat cukup banyak industri pertambangan dan membutuhkan energi besar untuk smelter dan operasional lainnya.
“Challenge kita adalah di Sulawesi. Kita tahu ya, mining sector bergeliat di sana. Listrik, sebetulnya kalau dari Dirjen Ketenagalistrikan mengatakan di tahun ini sudah mulai lampu kuning, bahkan mau ke merah. Jadi apa? listriknya perlu banget di sana,” kata Eniya dalam diskusi bertema ‘Mengelola Transisi Energi’ di Jakarta, Rabu (18/6/2025).
Dia membeberkan, untuk wilayah Sulawesi bagian Utara sebetulnya dipenuhi potensi EBT. Namun, yang menjadi persoalan adalah kegiatan pertambangan berada di wilayah Tengah dan Selatan Sulawesi.
Baca Juga
Indonesia Kejar Target EBT 20% di 2025, Ini Strategi dan Skema Pendanaan Inovatifnya
“Industri smelter atau tambang itu di tengah-tengah. Di Morowali, di tengah situ ya, ke arah bawah Sulawesi. Nah, yang atas itu Sulawesi Utara over (listrik) sekarang, tetapi tidak ada transmisinya,” jelas dia.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, ditargetkan penambahan kapasitas sebesar 69,5 GW. Dari jumlah tersebut 42,6 GW di antaranya akan berasal dari EBT, 16,6 GW dari fosil, dan 10,3 GW storage.
Baca Juga
Ekspor Listrik Hijau ke Singapura, Indonesia Buka 418.000 Lapangan Kerja
Menurut Eniya, bukan sesuatu yang haram untuk tetap mencantumkan energi fosil dalam RUPTL tersebut. Sebab, yang terpenting adalah terpenuhinya kebutuhan energi.
“Listrik ini bisa dikategorikan semuanya baik. Jerman pun masih menggunakan batu bara, ada nuklir, semua mengkombinasikan. Memang saya selalu bilang bahwa karena resource Indonesia banyak, kalau ditanya, Bu ini fokus ke nuklir? Enggak, kita itu multi-resources. Sehingga saya selalu menjawab, there is no single solution. Jadi harus mix dengan semuanya,” tegas Eniya.

