Harga Emas Tertekan, Pasar Prediksi The Fed Tahan Suku Bunga
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia melemah menjadi US$ 4.135 per troy ounce pada perdagangan Selasa di tengah kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar mencermati prospek suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjelang pertemuan kebijakan pada pekan berikutnya, yang berpotensi memengaruhi daya tarik logam mulia tersebut.
Tekanan terhadap emas muncul ketika imbal hasil Treasury AS meningkat meskipun harga energi mengalami penurunan. Kenaikan imbal hasil membuat instrumen berbunga lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan pendapatan bunga.
Baca Juga
KPK Pamerkan Barang Bukti Korupsi Dana Bencana BNPB, Ada Uang hingga Emas
Imbal hasil Treasury AS tenor 2 tahun naik lebih dari 3 basis poin menjadi 4,778%. Pada saat yang sama, imbal hasil tenor 10 tahun meningkat lebih dari 4 basis poin menjadi 5,144%, sedangkan tenor 30 tahun naik lebih dari 4 basis poin menjadi 5,476%.
Kenaikan imbal hasil tersebut juga dipengaruhi tekanan di pasar obligasi global. Aksi jual obligasi Prancis setelah kerusuhan pada akhir pekan turut menambah tekanan terhadap pasar surat utang, sehingga investor kembali mencermati risiko inflasi dan arah kebijakan moneter.
Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan Federal Reserve pada Oktober. Pasar memperkirakan bank sentral tersebut akan mempertahankan suku bunga, meskipun data inflasi AS pada pekan sebelumnya menunjukkan tekanan harga yang lebih kuat dari perkiraan.
Berdasarkan CME FedWatch, kontrak berjangka suku bunga dana The Fed menunjukkan peluang sebesar 82,8% bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan dua hari yang dijadwalkan mulai 28 Oktober.
Ekspektasi tersebut turut dipengaruhi pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang dinilai membuka ruang bagi kebijakan suku bunga yang tetap stabil. Namun, pelaku pasar masih menilai perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi sebelum memastikan arah kebijakan berikutnya.
The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase pada September, kenaikan pertama sejak 2023. Selain keputusan Oktober, pasar juga mencermati arah kebijakan bank sentral pada Desember. Prospek tersebut menjadi penting karena pergerakan inflasi dan pertumbuhan ekonomi dapat mengubah perkiraan investor mengenai tingkat suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Ekspektasi Inflasi Kembali Meningkat
Data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan turut mendorong penyesuaian ekspektasi pasar. Para pelaku pasar obligasi menilai bahwa tekanan harga masih berpotensi membatasi ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Strategis Deutsche Bank menilai kalender rilis data ekonomi AS yang relatif ringan pada pekan ini akan membuat pasar terus mencerna data inflasi sebelumnya. Mereka juga menyoroti kekhawatiran mengenai pertumbuhan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang ikut memengaruhi pergerakan obligasi pemerintah.
Baca Juga
Pembiayaan Emas Bank Muamalat Melonjak, Tembus Rp 1,9 Triliun
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun sebelumnya turun 16,5 basis poin dalam sepekan menjadi 5,07%, termasuk kenaikan 1,5 basis poin pada Jumat. Namun, ekspektasi inflasi justru meningkat di AS maupun Eropa.
Di Eropa, tingkat swap inflasi satu tahun naik 21 basis poin dalam sepekan menjadi 3,69%. Sementara itu, di AS, swap inflasi satu tahun meningkat 17 basis poin menjadi 2,74%.
Swap inflasi merupakan instrumen keuangan yang digunakan investor untuk memperdagangkan ekspektasi inflasi. Pergerakannya dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana pasar menilai prospek kenaikan harga pada periode mendatang.
