The Fed Tahan Suku Bunga, Harga Emas Tetap di Area Rekor
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia bertahan di level tinggi pada Rabu (29/1/2026) waktu Amerika Serikat (AS) setelah bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) menahan suku bunga acuannya, keputusan yang telah diantisipasi pelaku pasar dan memperkuat minat terhadap aset lindung nilai.
Harga emas spot naik 1,7% menjadi US$ 5.276,53 per troy ounce, sementara kontrak berjangka emas diperdagangkan di level US$ 5.276,60. Pada perdagangan sebelumnya, logam mulia tersebut sempat bergerak di atas US$ 5.300 dan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Baca Juga
Emas Tembus US$ 5.500, Bursa Asia Bergerak Bervariasi Pasca-Keputusan The Fed
Pergerakan harga tersebut terjadi setelah The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga pada level saat ini di level 3,50-3,75%, seusai rapat kebijakan moneter terbarunya. Keputusan ini mencerminkan sikap kehati-hatian otoritas moneter di tengah dinamika pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.
Dalam pernyataan resminya, The Fed menilai aktivitas ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan, meskipun terdapat sinyal penyesuaian di pasar tenaga kerja.
“Indikator yang tersedia menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi telah berkembang dengan kecepatan yang solid. Penambahan lapangan kerja tetap rendah, dan tingkat pengangguran menunjukkan beberapa tanda stabilisasi,” demikian pernyataan pasca-pertemuan tersebut.
“Inflasi tetap agak tinggi.”
Baca Juga
Sentuh Level Tertinggi, Emas Antam (ANTM) Naik Rp 52.000 Dekati Rp 3 Juta
Pasar menilai kebijakan suku bunga yang ditahan ini memperkuat daya tarik emas, mengingat logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga sehingga cenderung diuntungkan ketika biaya peluang memegang emas tidak meningkat. Selain itu, ketidakpastian terkait arah inflasi dan waktu penurunan suku bunga turut mendorong investor mempertahankan eksposur pada emas.
Kondisi ini membuat harga emas tetap berada di zona tinggi, seiring pelaku pasar global mencermati sinyal lanjutan kebijakan moneter The Fed serta data ekonomi Amerika Serikat berikutnya yang berpotensi memengaruhi arah suku bunga ke depan.

