Harga Emas Naik Dekati US$ 4.165, Pasar Prediksi The Fed Tahan Suku Bunga
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia menguat mendekati US$ 4.165 per troy ounce pada awal perdagangan Asia, Rabu (7/10/2026), setelah penurunan imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat (AS) dan harga minyak meredakan tekanan terhadap logam mulia.
Pemulihan harga emas terjadi ketika pasar menunggu publikasi risalah Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan pada Rabu waktu AS. Dokumen tersebut menjadi perhatian investor karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Baca Juga
Harga Emas Naik Mendekati US$ 4.180, 'Yield Treasury' AS Turun
Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun turun lebih dari 2 basis poin menjadi 5,286%. Penurunan tersebut terjadi setelah imbal hasil surat utang acuan itu menyentuh level tertinggi sejak April 2002 pada perdagangan sebelumnya.
Imbal hasil Treasury tenor 30 tahun juga turun menjadi 5,661% setelah sebelumnya mencapai level yang belum terlihat sejak Mei 2002. Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor 2 tahun turun lebih dari 3 basis poin menjadi 4,798%.
Pergerakan tersebut memberikan ruang bagi harga emas untuk kembali menguat. Penurunan yield membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas menjadi relatif lebih menarik, sementara turunnya harga minyak ikut meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Pasar Menanti Sinyal The Fed
Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan probabilitas sekitar 79,5% bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan Oktober.
Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS selama ini menjadi salah satu faktor utama yang menggerakkan harga emas. Ketika pasar melihat tekanan kenaikan suku bunga mulai berkurang, dolar AS dan imbal hasil surat utang dapat menghadapi tekanan, sehingga memberikan dukungan bagi logam mulia.
Analis Commerzbank dilansir FXStreet, menilai harga emas untuk sementara telah stabil di sekitar US$ 4.150 per troy ounce. Menurut mereka, kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga AS secara cepat juga mulai mereda.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Naik Rp 6.000 Jadi Rp 2,580 Juta
Commerzbank juga melihat dukungan dari investor exchange-traded fund (ETF) emas. Investor ETF merupakan pemegang dana investasi yang diperdagangkan di bursa dan memiliki eksposur terhadap harga emas tanpa harus membeli emas fisik secara langsung.
Menurut analis Commerzbank, investor ETF memang belum meningkatkan eksposur secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Namun, mereka juga belum melakukan pengurangan kepemilikan secara besar-besaran sehingga kondisi tersebut masih memberikan penopang bagi harga emas.
Perhatian pasar kemudian beralih pada prospek permintaan investasi dalam jangka menengah. Commerzbank mengutip pandangan konsultan Metal Focus yang masih optimistis terhadap prospek emas. Dalam publikasi tahunannya, Metal Focus memperkirakan harga emas berpotensi mencetak rekor baru pada 2027. Proyeksi tersebut didasarkan pada kemungkinan meningkatnya minat investor terhadap emas dalam jangka menengah.
