Bagikan

Harga Emas Tertekan karena Likuiditas Tipis dan Jelang Arah Suku Bunga The Fed

Poin Penting

Harga emas turun di tengah likuiditas tipis akibat libur Asia.
Risalah FOMC menjadi kunci arah suku bunga dan dolar AS.
Redanya tensi AS-Iran melemahkan permintaan aset safe haven.

JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia turun karena dilanda aksi jual pada awal perdagangan Asia Rabu (18/2/2026) di tengah tipisnya likuiditas akibat libur Tahun Baru Imlek. Sementara pelaku pasar menunggu sinyal arah suku bunga dari risalah bank sentral AS.

Pergerakan logam mulia ini terjadi saat sebagian besar pasar Asia tutup dan volume transaksi menurun, membuat volatilitas meningkat serta arah harga cenderung ditentukan sentimen eksternal, terutama dari Amerika Serikat (AS).

Harga emas turun hingga menjadi US$ 4.860 dalam sesi awal Asia.

Federal Open Market Committee (FOMC) ) dijadwalkan merilis risalah rapat kebijakan moneter terbaru pada Rabu waktu setempat. Dokumen tersebut dipantau pelaku pasar untuk membaca arah kebijakan suku bunga bank sentral AS dan dampaknya terhadap dolar serta komoditas global, termasuk emas.

Baca Juga

Harga Emas dan Perak Turun 2 Hari Beruntun, Investor Cermati Arah Suku Bunga AS

Likuiditas yang rendah mempersulit pembentukan tren jangka pendek. Analis pasar Forex.com Fawad Razaqzada menilai pasar masih mencari arah yang jelas seiring terbatasnya volume transaksi selama periode libur.

“Dengan liburnya sebagian besar wilayah Tiongkok minggu ini, likuiditas menjadi lebih tipis dan tidak jelas apakah ada momentum yang cukup untuk mendorong harga turun secara signifikan atau apakah pembeli yang memanfaatkan penurunan harga akan tergoda untuk kembali jika kita melihat pelemahan kembali pada dolar AS,” kata Fawad Razaqzada dilansir FXStreet.

Selain faktor likuiditas, meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran ikut menekan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Sentimen risiko global sempat membaik setelah sinyal dialog diplomatik kedua negara.

Ilustrasi emas. (CNBC)
Source: CNBC

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan pada Selasa (17/2/2026) bahwa kedua negara telah mencapai kesepahaman mengenai prinsip-prinsip utama dalam pembicaraan penyelesaian sengketa nuklir yang telah berlangsung lama. Namun, ia menegaskan bahwa proses menuju kesepakatan final masih membutuhkan waktu.

Pasar juga menaruh perhatian pada arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) bank sentral AS. Pelaku pasar menilai setiap indikasi pelonggaran kebijakan atau sikap dovish dapat menekan dolar AS dan memberikan dukungan bagi harga komoditas berbasis dolar, termasuk emas.

Baca Juga

Antrean "War" Emas di JCC, Pengamat: Masyarakat Kian Cerdas Investasi

Risalah FOMC dipandang sebagai referensi penting untuk memahami pandangan pejabat bank sentral terhadap inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan prospek suku bunga. Jika sinyal pelonggaran menguat, investor biasanya meningkatkan eksposur pada aset safe-haven dan komoditas.

Dalam jangka pendek, arah emas dinilai sangat bergantung pada dinamika dolar AS dan perkembangan geopolitik global. Perubahan ekspektasi suku bunga AS masih menjadi faktor dominan dalam menentukan tren harga logam mulia.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024