Harga Emas Melonjak 2%, Data Tenaga Kerja AS Picu Optimisme
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Rabu (1/7/2026) setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan di bawah ekspektasi pasar. Penguatan juga didorong pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) yang menyebut risiko inflasi mulai mereda sehingga meningkatkan harapan terhadap arah kebijakan suku bunga. Kondisi tersebut mendorong investor kembali memburu aset aman.
Harga emas spot naik 2,1% menjadi US$ 4.089,49 per ons setelah sehari sebelumnya menyentuh level terendah sejak November sekaligus membukukan pelemahan triwulanan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus menguat 1,6% menjadi US$ 4.103,10 per ons.
Baca Juga
Harga Emas Catat Penurunan Triwulanan Terdalam dalam 13 Tahun
"Harga emas mengalami kenaikan yang cukup baik, data ADP (Automatic Data Processing) yang lebih rendah membantu menciptakan suasana positif, dan komentar Ketua Fed Warsh tentang penurunan inflasi telah mendorong imbal hasil obligasi turun dan mengguncang pasar emas yang sebelumnya lesu menjadi lebih tinggi," kata Tai Wong, pedagang logam independen.
"Harga emas mungkin telah menciptakan setidaknya basis jangka pendek kecuali jika kita mendapatkan laporan penggajian yang luar biasa besok," tambah Wong.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke laporan nonfarm payrolls atau data ketenagakerjaan di luar sektor pertanian yang akan dirilis Kamis (2/7/2026). Data tersebut menjadi salah satu indikator utama yang digunakan investor untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Sebelumnya, laporan ketenagakerjaan nasional ADP menunjukkan penambahan tenaga kerja sektor swasta hanya mencapai 98.000 pekerjaan pada Juni, lebih rendah dibandingkan kenaikan 122.000 pekerjaan pada Mei. Angka tersebut juga berada di bawah proyeksi ekonom yang disurvei Reuters, yakni sebanyak 118.000 pekerjaan.
Inflasi Mereda, Imbal Hasil Obligasi Turun
Di sisi lain, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengatakan ekspektasi inflasi maupun risiko inflasi telah menurun dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, ia kembali menegaskan bank sentral AS tetap berkomitmen menurunkan inflasi hingga mencapai target 2%.
Pernyataan tersebut mendorong imbal hasil obligasi Pemerintah AS melemah. Penurunan imbal hasil biasanya meningkatkan daya tarik emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil sehingga menjadi lebih kompetitif dibandingkan instrumen berbunga.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 67% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada September.
Baca Juga
Kilau Emas Antam (ANTM) Meredup Dibayangi Suku Bunga The Fed
Selain faktor ekonomi, perkembangan geopolitik juga menjadi perhatian investor. Amerika Serikat dan Iran menggelar pembicaraan teknis di Doha pada Rabu untuk membahas kelancaran arus pelayaran melalui Selat Hormuz sekaligus mengupayakan tercapainya gencatan senjata yang lebih permanen, menurut seorang pejabat Iran.
Penguatan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot melonjak 2,8% menjadi US$ 60,24 per ons. Sementara itu, harga paladium naik 1,6% menjadi US$ 1.223,68 per ons. Adapun platinum mencatat kenaikan terbesar di antara logam mulia utama dengan penguatan 3,1% menjadi US$ 1.599,36 per ons, setelah sempat menyentuh level terendah sejak November pada awal sesi perdagangan.
