Harga Emas Turun Jelang Data Inflasi dan Tenaga Kerja AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas global turun lebih dari 1% pada Selasa (10/2/2026) karena pasar terkonsolidasi menjelang rilis data tenaga kerja dan inflasi Amerika Serikat (AS) yang dinilai krusial bagi arah suku bunga bank sentral AS. Pelemahan ini memicu volatilitas di pasar logam mulia sekaligus menjadi sinyal kehati-hatian investor global.
Harga emas spot turun 0,71% menjadi US$ 5.028,43 per ons atau sekitar Rp 77,9 juta per ons pada pukul 16.03 waktu New York. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April juga melemah 0,42% menjadi US$ 5.057,90 per ons.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan pasar cenderung menahan posisi menjelang rilis data ekonomi utama. “Kami melihat sedikit penurunan atau konsolidasi menjelang sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis akhir pekan ini,” kata David Meger dilansir CNBC.
Baca Juga
Saham EMAS Melonjak 11,54% ke Rp 7.250, Topang Kenaikan IHSG dan Sektor Material Dasar
Data nonfarm payroll Januari, indikator jumlah pekerjaan di luar sektor pertanian, dijadwalkan dirilis Rabu (12/2/2026). Para ekonom memperkirakan sekitar 70.000 pekerjaan baru tercipta pada bulan tersebut. Indeks Harga Konsumen (CPI), indikator inflasi utama, akan diumumkan Jumat (14/2/2026).
Sebelumnya, penjualan ritel AS dilaporkan tidak berubah pada Desember, menunjukkan perlambatan pengeluaran konsumen dan menandakan momentum ekonomi melemah memasuki awal tahun.
Prospek ekonomi yang lebih lemah memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga. Pelaku pasar memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin tahun ini berdasarkan CME FedWatch Tool (alat proyeksi suku bunga pasar). Suku bunga yang lebih rendah biasanya mendukung logam mulia karena menurunkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Meger menambahkan bahwa pelemahan dolar AS turut menopang harga emas di tengah tekanan jangka pendek. “Pelemahan dolar AS kemungkinan akan terus menopang harga,” katanya, seraya menilai ketegangan geopolitik dan ekspektasi penurunan suku bunga masih menjadi faktor pendukung bersama level psikologis US$ 5.000 per ons.
Permintaan investasi emas juga terlihat meningkat di Asia. Investor India dilaporkan meningkatkan pembelian dana berbasis emas melalui Exchange Traded Funds (ETF), produk investasi yang diperdagangkan di bursa, sepanjang Januari seiring lonjakan harga. Arus dana tersebut bahkan melampaui investasi ke reksa dana saham untuk pertama kalinya menurut data industri yang dirilis Selasa.
Di pasar fisik, London Bullion Market Association (LBMA), asosiasi perdagangan logam mulia global, melaporkan cadangan perak di brankas London mencapai 27.729 metrik ton pada akhir Januari atau turun 0,3% dari Desember. Sementara stok emas meningkat 0,6% menjadi 9.158 ton.
Harga perak ikut tertekan. Logam tersebut turun 3,05% menjadi US$ 80,83 per ons setelah sempat melonjak hampir 7% pada sesi sebelumnya.
Baca Juga
Meski Harga Sempat Berfluktuasi, Permintaan Emas Diproyeksi Masih Kuat pada 2026
Standard Chartered dalam catatannya menyebut arus keluar produk perak yang diperdagangkan di bursa membuat harga rentan terhadap volatilitas jangka pendek, meski prospek jangka menengah masih positif.
“Arus keluar perak (produk yang diperdagangkan di bursa) membuat perak rentan terhadap volatilitas dalam jangka pendek dan penting untuk dipantau, tetapi pasar yang kekurangan pasokan menunjukkan pemulihan dalam beberapa bulan mendatang,” tulis bank tersebut.
Logam mulia lainnya juga melemah. Harga platinum turun 1,99% menjadi US$ 2.081,55 per ons, sedangkan paladium kehilangan 1,72% menjadi US$ 1.710,33 per ons.

