Harga Emas Catat Penurunan Triwulanan Terdalam dalam 13 Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas melemah pada perdagangan Selasa (30/6/2026) dan berada di jalur penurunan triwulanan terdalam dalam 13 tahun terakhir. Tekanan datang dari meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama akibat inflasi di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Harga emas spot turun 0,2% menjadi US$ 4.008,94 per ons setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak November. Sepanjang Juni, logam mulia merosot 11,3%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus turun 0,4% menjadi US$ 4.022,70 per ons.
Penurunan tersebut membuat emas berada di jalur koreksi triwulanan pertama sejak 2024 sekaligus menjadi penurunan terdalam sejak triwulan yang berakhir pada Juni 2013.
Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, ketika suku bunga meningkat, daya tarik logam mulia berkurang karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan berbunga.
Baca Juga
Harga Emas Turun, Konflik AS-Iran dan Sinyal The Fed Jadi Tekanan
Analis Marex Edward Meir mengatakan pasar masih meragukan stabilitas nota kesepahaman yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah sehingga belum melihat adanya prospek positif dalam waktu dekat. "Pasar agak gelisah tentang seberapa stabil nota kesepahaman ini dan ada tekanan pada emas karena orang-orang tidak melihat banyak harapan di ujung terowongan," kata Edward Meir.
Di sisi lain, perkembangan diplomasi di Timur Tengah juga belum memberikan sentimen positif bagi pasar. Seorang pejabat Qatar mengatakan para utusan senior Amerika Serikat yang telah tiba di Doha tidak akan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Iran. Kondisi tersebut memunculkan keraguan mengenai peluang tercapainya penghentian konflik secara permanen.
Meski ketegangan geopolitik biasanya mendukung permintaan emas sebagai aset aman, perhatian pelaku pasar saat ini lebih banyak tertuju pada prospek kebijakan moneter Amerika Serikat.
Inflasi di Amerika Serikat masih bertahan jauh di atas target 2% yang ditetapkan The Fed. Kondisi tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama, bahkan masih membuka peluang untuk kembali menaikkan suku bunga.
Menurut Meir, ekspektasi tersebut menjadi faktor utama yang menekan harga emas dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan terdapat sekitar 65% peluang kenaikan suku bunga pada September. Investor kini menunggu rilis data ketenagakerjaan Automatic Data Processing (ADP) pada Rabu (1/7/2026) dan data non-farm payrolls atau penggajian sektor nonpertanian Amerika Serikat pada Kamis (2/7/2026) sebagai petunjuk arah kebijakan The Fed berikutnya.
Bank Sentral Masih Menambah Emas
Di tengah pelemahan harga, survei Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) menunjukkan bank-bank sentral di berbagai negara tetap meningkatkan kepemilikan emas dalam jangka pendek.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Rp 15.000 Setelah The Fed Diperkirakan Naikkan Suku Bunga
Survei tersebut juga memperlihatkan bahwa bank sentral cenderung mengurangi eksposur terhadap dolar Amerika Serikat selama satu dekade mendatang seiring meningkatnya risiko geopolitik global.
Sementara itu, logam mulia lainnya juga bergerak bervariasi. Harga perak spot turun 0,8% menjadi US$ 58,2585 per ons dan berada di jalur penurunan triwulanan terburuk sejak kuartal pertama 2020.
Harga platinum melemah 0,7% menjadi US$ 1.564,34 per ons. Sebaliknya, paladium naik tipis 0,2% menjadi US$ 1.215,94 per ons. Meski demikian, kedua logam tersebut diperkirakan tetap mencatatkan penurunan baik secara bulanan maupun triwulanan.
