Harga Emas Melonjak 2%, Data Tenaga Kerja AS Picu Harapan Pelonggaran The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas melanjutkan reli dan melonjak lebih 2% pada Kamis (2/6/2026) setelah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang jauh lebih lemah dari perkiraan. Data tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga tinggi semakin terbatas sehingga mendorong minat investor terhadap aset safe haven, seperti emas.
Harga emas spot naik 2,2% menjadi US$ 4.117,63 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS menguat 1,2% ke US$ 4.130,10 per ons.
Baca Juga
Harga Emas Catat Penurunan Triwulanan Terdalam dalam 13 Tahun
Penguatan emas juga didukung pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,7%. Kondisi itu membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain sehingga permintaan meningkat.
"Angka lapangan kerja yang lebih rendah dari perkiraan mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga di akhir tahun ini akan lebih kecil. Seperti yang kita ketahui, emas cenderung berkinerja lebih baik dalam lingkungan suku bunga yang lebih rendah," kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger.
Laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan ekonomi negara tersebut hanya menciptakan 57.000 lapangan kerja pada bulan lalu. Angka itu jauh di bawah proyeksi ekonom yang memperkirakan penambahan sekitar 110.000 pekerjaan. Sementara itu, tingkat pengangguran tercatat sebesar 4,2%.
Data tersebut menyusul laporan pada Rabu (1/7/2026) yang memperlihatkan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta AS selama Juni juga berada di bawah ekspektasi pasar. Rangkaian data itu memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum.
Setelah laporan ketenagakerjaan dirilis, pelaku pasar menyesuaikan kembali proyeksi terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang perubahan suku bunga pada September kini berada di kisaran 51%, dibandingkan sekitar 66% sebelum data tenaga kerja diumumkan.
Ketua The Fed Kevin Warsh pada Rabu mengatakan ekspektasi inflasi maupun risiko inflasi telah menurun dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, ia menegaskan bank sentral AS tetap berkomitmen mengembalikan inflasi ke target 2%.
Prospek suku bunga yang lebih rendah umumnya menjadi sentimen positif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga sehingga menjadi lebih kompetitif dibandingkan aset berbunga ketika biaya pinjaman menurun.
Bank Sentral Kembali Borong Emas
Di sisi lain, permintaan emas dari bank sentral juga tetap kuat. Dewan Emas Dunia melaporkan bahwa bank-bank sentral kembali menjadi pembeli bersih pada Mei.
Baca Juga
Berdasarkan data terbaru, cadangan emas resmi global meningkat 41 ton selama bulan tersebut. Tren pembelian oleh bank sentral menjadi salah satu faktor yang menopang harga emas dalam jangka panjang karena mencerminkan upaya diversifikasi cadangan devisa dari aset berbasis dolar.
Selain faktor ekonomi, ketidakpastian geopolitik masih menjadi penopang pasar emas. Iran dan Amerika Serikat mengakhiri putaran pembicaraan tidak langsung pada Rabu tanpa tanda-tanda tercapainya kemajuan menuju kesepakatan damai yang lebih permanen. Situasi tersebut membuat permintaan terhadap aset lindung nilai tetap terjaga.
