Harga Emas Naik 1%, Harapan Damai Iran Redakan Tekanan Inflasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas naik 1% pada perdagangan Rabu (20/5/2026) setelah pasar mulai optimistis terhadap kemungkinan meredanya konflik Iran. Kondisi itu menekan harga minyak mentah, meredakan kekhawatiran inflasi, dan mendorong imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) turun dari level tertinggi baru-baru ini.
Harga emas spot naik 1% menjadi US$ 4.532,72 per ons setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh minggu. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS pengiriman Juni naik 0,5% menjadi US$ 4.535,30 per ons.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun, Ternyata Pemicunya Bukan Hanya Dolar
Direktur perdagangan logam High Ridge Futures David Meger mengatakan pasar mulai melihat jeda kenaikan imbal hasil obligasi AS yang sebelumnya berlangsung agresif. Kondisi tersebut membantu harga emas pulih dari tekanan dalam beberapa sesi terakhir. “Kita telah melihat jeda dari peningkatan imbal hasil yang berkelanjutan. Akibatnya, kita melihat harga emas pulih dari titik terendah baru-baru ini,” kata Meger dikutip CNBC.
Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun sedikit menurun setelah sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025. Penurunan yield membuat emas kembali menarik karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih rendah.
Meger menambahkan bahwa setiap peluang penyelesaian konflik di Timur Tengah, termasuk potensi pembukaan kembali Selat Hormuz, akan menjadi sentimen positif bagi pasar emas. Kondisi tersebut dapat menurunkan tekanan suku bunga dan membantu pemulihan harga logam mulia.
“Segala jenis penyelesaian perang atau pembukaan Selat Hormuz akan berdampak positif bagi pasar emas karena diharapkan suku bunga akan turun, dan karenanya akan menguntungkan atau membantu pasar emas,” ujar Meger.
Harga minyak mentah Brent sebelumnya melemah setelah Presiden AS Donald Trump kembali menyatakan perang dengan Iran akan berakhir “dengan sangat cepat”. Meski begitu, pelaku pasar masih berhati-hati karena gangguan pasokan energi di kawasan Timur Tengah dinilai belum sepenuhnya mereda.
Kenaikan harga energi selama konflik berlangsung sempat meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Kondisi itu membuat bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Dalam situasi suku bunga tinggi, emas biasanya kehilangan daya tarik karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Baca Juga
Emas Antam (ANTM) Menguat Rp 25.000 Saat Dolar AS Melemah, Ini Pemicunya
Berdasarkan data FedWatch CME, investor kini memperkirakan peluang sebesar 48,6% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. Sementara untuk pertemuan Juni, peluang suku bunga tetap berada di level saat ini mencapai 89,6%.
Di sisi lain, Citibank masih mempertahankan sikap hati-hati terhadap prospek emas dalam jangka pendek. Bank investasi tersebut menetapkan target harga emas untuk periode nol hingga tiga bulan di level US$ 4.300 per ons.

