Harga Emas Naik, Harapan Damai AS-Iran Redakan Inflasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia menguat pada Kamis (16/4/2026) seiring harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meredakan kekhawatiran inflasi serta membuka peluang penurunan suku bunga global.
Penguatan ini terjadi ketika pelaku pasar mulai mengantisipasi arah kebijakan moneter dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), di tengah meredanya tensi geopolitik yang sebelumnya sempat memicu lonjakan harga energi.
Baca Juga
Emas Bersinar di Tengah Pelemahan Dolar dan Harapan Negosiasi AS-Iran
Harga emas berjangka Amerika Serikat naik 0,6% menjadi US$ 4.816,14 per ons pada pukul 09.00 waktu setempat, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam satu bulan. Kontrak pengiriman Juni juga meningkat 0,3% menjadi US$ 4.838,10 per ons.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan bahwa meredanya ketegangan konflik telah menekan lonjakan inflasi dan meningkatkan peluang penurunan suku bunga. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut mendorong kembali permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai.
Optimisme pasar turut didorong perkembangan diplomatik, saat mediator dari Pakistan mencapai terobosan dalam sejumlah isu krusial. Meski demikian, Iran masih menegaskan bahwa persoalan program nuklirnya belum sepenuhnya terselesaikan.
Pada fase awal konflik yang dimulai akhir Februari, harga emas sempat tertekan akibat lonjakan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi dan menekan ekspektasi pelonggaran moneter. Dalam kondisi suku bunga tinggi, emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik bagi investor.
Namun, seiring meredanya konflik, ekspektasi pasar mulai bergeser. Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga Amerika Serikat mencapai 36% pada tahun ini.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan bahwa perekonomian diperkirakan melambat pada kuartal berjalan akibat dampak perang, tetapi tetap berada dalam kondisi solid dan berpotensi pulih. Ia juga menilai bahwa harga minyak tidak memberikan tekanan signifikan terhadap ekspektasi inflasi.
Baca Juga
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak naik 0,3% menjadi US$ 79,27 per ons. Laporan Silver Institute dan Metals Focus menunjukkan pasar perak tengah menuju tahun keenam defisit struktural, dengan total 762 juta ons troy telah terserap dari stok sejak 2021. Kondisi ini meningkatkan risiko krisis likuiditas baru meskipun prospek permintaan melemah.
Sementara itu, platinum menguat 0,9% menjadi US$ 2.129,55 per ons dan palladium naik 0,3% menjadi US$ 1.578,06 per ons.

