Redakan Ketegangan Geopolitik, Beijing Dukung Putaran Baru Perundingan Nuklir Iran–Eropa
BEIJING, investortrust.id - Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan memburuknya arsitektur non-proliferasi global, China kembali menegaskan posisinya sebagai kekuatan diplomatik yang mendorong penyelesaian damai. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun menyatakan dukungan penuh terhadap putaran baru perundingan nuklir antara Iran dan tiga negara Eropa: Inggris, Prancis, dan Jerman, yang dijadwalkan berlangsung di Istanbul, Turki, pada 25 Juli mendatang.
Baca Juga
“China selalu menganjurkan penyelesaian isu nuklir Iran secara damai melalui jalur politik dan diplomatik. Inilah satu-satunya jalan yang tepat,” tegas Guo, dikutip dari Antara, Selasa (22/7/2025). Ia juga menambahkan bahwa isu nuklir Iran memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan rezim non-proliferasi nuklir internasional.
Putaran baru negosiasi ini terjadi setelah Eropa mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan, di tengah kekhawatiran bahwa program nuklir Teheran kian melenceng dari batas-batas kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA). Iran mengonfirmasi keterlibatannya dalam pertemuan ini melalui pernyataan resmi Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei, yang menyebut dua diplomat senior, Majid Takht-Ravanchi dan Kazem Gharibabadi, akan mewakili Teheran.
Namun, dinamika geopolitik seputar isu ini tidak bisa dilepaskan dari eskalasi kekerasan yang terjadi bulan lalu. Pada 13 Juni, Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran, menewaskan sejumlah pejabat militer tinggi, ilmuwan nuklir, dan warga sipil. Iran menuduh AS terlibat secara langsung dalam operasi tersebut dan membalas dengan menargetkan posisi-posisi militer dan diplomatik AS di wilayah regional. Ketegangan memuncak selama 12 hari sebelum gencatan senjata diberlakukan pada 24 Juni.
Baca Juga
Rudal Iran Hantam Rumah Sakit, Israel Balas Bombardir Reaktor Nuklir
Serangan itu juga menyebabkan pembatalan putaran keenam negosiasi yang semula akan digelar di Muscat, Oman, pada 15 Juni. Saat ini, Istanbul menjadi lokasi kompromi untuk membuka kembali jalur diplomasi.
Dalam pertemuan sebelumnya pada 17 Juli, para menteri luar negeri dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Uni Eropa menyampaikan ultimatum bahwa jika Iran tidak kembali ke jalur kesepakatan, mereka akan mengaktifkan mekanisme “snapback” — yang berarti pengaktifan kembali sanksi internasional secara otomatis melalui resolusi PBB.
Iran sendiri tetap menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk penggunaan damai, seperti energi dan medis. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran tetap membuka ruang dialog, namun menekankan bahwa AS adalah pihak yang pertama kali menarik diri dari kesepakatan JCPOA pada 2018.
Baca Juga
Iran Serukan Zona Bebas Nuklir di Timur Tengah, Desak Israel Harus Tunduk Juga
China tampaknya berusaha memainkan peran penyeimbang geopolitik. Dengan tidak menjadi pihak dalam konflik langsung, Beijing berupaya menjaga stabilitas kawasan yang sangat vital bagi rantai pasok energi global dan menjaga kredibilitas mekanisme multilateral seperti JCPOA.

