Harga Emas Melonjak 2,7% Seusai Sinyal Damai AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia melonjak ke level tertinggi dalam lebih sepekan pada perdagangan Rabu (6/5/2026), didorong optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Perkembangan ini meredakan kekhawatiran inflasi global dan ekspektasi periode suku bunga tinggi yang berkepanjangan.
Harga emas spot naik 2,7% menjadi US$ 4.678,95 per ons setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 27 April pada awal sesi perdagangan. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat menguat 2,7% menjadi US$ 4.690,20 per ons.
Penguatan emas turut didukung pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,5%, yang membuat logam mulia lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya sehingga meningkatkan permintaan pasar global.
Wakil Presiden sekaligus ahli strategi logam senior Zaner Metals Peter Grant mengatakan sentimen pasar membaik setelah muncul optimisme mengenai peluang kesepakatan akhir antara Amerika Serikat dan Iran.
“Optimisme tentang kesepakatan akhir antara AS dan Iran telah menyebabkan setidaknya sedikit kelegaan jangka pendek pada harga emas, dengan harga minyak yang lebih rendah, kekhawatiran inflasi yang mereda, dan pergeseran bias terkait tindakan The Fed di akhir tahun,” kata Grant dikutip CNBC.
Baca Juga
Emas Antam (ANTM) Terbang Rp 30.000, Saatnya Borong atau Tunggu?
Meski demikian, ia menilai pasar masih akan bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik terbaru di Timur Tengah. “Saya tidak akan mengatakan bahwa kita sepenuhnya terbebas dari masalah. Pasar akan terus berputar mengikuti berita-berita terkini dari Timur Tengah,” ujarnya.
Optimisme pasar meningkat setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran hampir mencapai kesepakatan melalui memorandum satu halaman untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk. Informasi tersebut disampaikan oleh sumber dari Pakistan yang terlibat dalam proses mediasi serta sumber lain yang mengetahui perkembangan negosiasi tersebut.
Laporan mengenai potensi perdamaian itu langsung memicu penurunan harga minyak global. Minyak mentah Brent acuan tercatat turun hingga mendekati level US$ 100 per barel. Penurunan harga energi dipandang positif bagi pasar karena dapat mengurangi tekanan inflasi global yang sebelumnya meningkat akibat konflik geopolitik. Kondisi ini juga memunculkan harapan bahwa bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve (The Fed) tidak perlu mempertahankan suku bunga tinggi terlalu lama.
Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Namun, logam mulia cenderung kurang menarik ketika suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito.
Fokus Beralih ke Data Tenaga Kerja AS
Setelah perkembangan geopolitik mulai mereda, perhatian investor kini beralih ke data ekonomi Amerika Serikat, khususnya laporan ketenagakerjaan bulanan yang akan dirilis Jumat (8/5/2026).
Data tersebut diperkirakan menjadi indikator penting untuk mengukur ketahanan ekonomi AS sekaligus menentukan arah kebijakan moneter Federal Reserve ke depan.
Jika pasar tenaga kerja masih kuat, The Fed kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Sebaliknya, pelemahan ekonomi dapat membuka ruang penurunan suku bunga.
Baca Juga
Harga Emas Anjlok 2% Tertekan Konflik AS-Iran dan Penguatan Dolar Perkasa
Laporan National Employment Report dari Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan jumlah pekerja sektor swasta AS pada April meningkat lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak melonjak 5,5% menjadi US$ 76,81 per ons. Platinum naik 3,5% menjadi US$ 2.020,50 per ons, sementara paladium menguat 3,9% ke level US$ 1.543,76 per ons.

