Emas Kembali Bersinar Saat Minyak Turun, Pasar Cermati Sinyal Damai AS–Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga emas kembali menguat tajam pada Rabu (25/3/2026), didorong turunnya harga minyak yang meredakan kekhawatiran inflasi global di tengah harapan meredanya konflik Timur Tengah.
Baca Juga
Iran Buka Ruang Negosiasi Damai, Israel Justru Tingkatkan Serangan
Dikutip dari CNBC, harga emas spot melonjak hampir 2% ke level US$4.558,81 per ons, sementara kontrak berjangka emas untuk pengiriman April naik lebih dari 3% ke US$4.552,30 per ons.
Penguatan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington dan Teheran “sedang bernegosiasi saat ini,” serta memberi sinyal bahwa Iran terbuka terhadap kesepakatan damai.
Trump juga menegaskan bahwa ia menahan rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran sebagai bagian dari proses diplomasi.
Namun, Iran membantah adanya pembicaraan langsung. Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, bahkan menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah membuat kesepakatan dengan AS.
Di sisi lain, Teheran mengkonfirmasi akan mengizinkan kapal “non-hostile” melintasi Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi global—dengan syarat koordinasi tertentu.
Langkah ini menjadi sinyal penting setelah hampir empat pekan gangguan distribusi minyak akibat konflik, yang sempat memicu lonjakan harga energi global.
Harga minyak terkoreksi tajam. Minyak Brent turun sekitar 5% ke US$99,13 per barel, sementara WTI melemah sekitar 4% ke US$88,42 per barel.
Penurunan harga energi tersebut mengurangi tekanan inflasi, yang pada gilirannya meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Meski demikian, harga emas saat ini masih sekitar 17% di bawah puncaknya pada akhir Januari.
Baca Juga
Menurut Goldman Sachs, koreksi harga emas belakangan ini masih sejalan dengan pola historis, dipicu ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dan volatilitas pasar.
Bank tersebut menilai reli emas sebelumnya sempat melampaui fundamental, sehingga koreksi saat ini mencerminkan proses normalisasi.
Namun, prospek jangka panjang tetap bullish. Goldman Sachs memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$5.400 per ons pada akhir tahun, didorong pembelian bank sentral global yang ingin mengurangi eksposur terhadap risiko geopolitik dan finansial.

