KSPI Nilai Perang AS-Israel vs Iran Bakal Picu Gelombang PHK Besar-besaran di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id -- Presiden Konfederasi Serikat Pekerja (KSPI) Said Iqbal memperingatkan potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran di Indonesia sebagai dampak dari eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Isu ini menjadi salah satu tuntutan utama yang akan disuarakan buruh dalam aksi massa pada Rabu (4/3/2026) besok.
Said Iqbal menjelaskan keterlibatan militer di kawasan Timur Tengah, terutama penutupan Selat Hormuz, akan memicu lonjakan harga minyak dunia secara drastis. Hal ini diprediksi bakal memukul sektor industri domestik melalui kenaikan harga BBM dan biaya logistik.
Baca Juga
Bursa Asia Tertekan Eskalasi Perang Iran, Indeks Kospi Korsel Ambles Lebih dari 5%
"Kalau harga minyak melambung tinggi, BBM di Indonesia naik tinggi. Akibatnya, production cost atau biaya produksi perusahaan naik, sehingga harga jual barang melonjak. Ini akan menambah beban masyarakat, apalagi menjelang Lebaran," kata Said dalam konferensi pers secara daring, Selasa (3/3/2026).
Selain faktor energi, Said juga menyoroti terganggunya jalur perdagangan internasional. Terhentinya ekspor ke wilayah AS, Eropa, dan Timur Tengah akan menyebabkan penumpukan stok barang di dalam negeri. Kondisi tersebut memaksa perusahaan melakukan efisiensi produksi yang berujung pada pengurangan tenaga kerja.
Kemudian, sektor tekstil dan garmen juga terancam serius akibat terhambatnya impor bahan baku kapas yang mayoritas berasal dari Amerika Serikat.
"Biaya produksi pabrik tekstil garmen akan melambung tinggi karena bahan baku mahal dan sulit didapat. Ujung-ujungnya tetap PHK. Perang Iran dengan Amerika dan Israel pasti akan mengakibatkan PHK besar-besaran," tegasnya.
Said meminta Presiden Prabowo Subianto segera mengambil langkah-langkah preventif untuk mencegah PHK.
Baca Juga
Enam Tentara AS Tewas, Trump Perkirakan Perang Iran Bisa Berlangsung Lebih Lama
Apalagi Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kesiapan militer dalam durasi singkat, yang diyakini akan memukul nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta mengguncang IHSG.
"Kita tidak bisa membayangkan ambruknya ekonomi Indonesia jika ini dibiarkan," tegasnya.

